Hari Libur yang Berbunyi: Suara Masyarakat Jadi Sajak di Tangan LPRI
KUPANG, 18 MARET 2026 –
Ketika jam istirahat menggema di setiap sudut kota,
Ketika jalanan tenang menyambut hari libur yang panjang,
Ada tangan yang menjepit amplop kertas bekas,
Ada mata yang mengirimkan sinyal ke arah langit,
“Kiranya ada yang mendengar, kiranya ada yang datang…”

Dari kantor yang tidak mengunci pintunya,
Tim berjalan dengan langkah yang pasti,
Rezky memegang peta harapan,
Jance, Jane, Yandri, Edi menyusul dengan hati yang sama,

“Setiap keluhan bukan sekadar cerita,”
Begitu ucapnya dengan nada yang tegas,
Sebagai bait pembuka dalam puitika perjuangan,
Untuk menyelesaikan masalah yang mengikat.
Di lokasi yang diberitakan oleh suara yang gemetar,
Mereka duduk bersamaan di atas tikar tanah,
Mendengar alunan keluhan yang terjepit dalam dada,
Yang jika tertunda akan menjadi puisi yang pahit.
“Kalau harus menunggu hari kerja,” ujar pengadu tanpa nama,
“Masalah akan tumbuh menjadi puisi yang panjang,”
“Terima kasih yang datang di hari yang lain,
Buat kami, ini adalah sajak yang menyenangkan.”

DPD LPRI NTT bersumpah dengan nada yang jelas:
“Kami akan selalu ada, bukan hanya di hari kerja saja,
Setiap saat sesuai dengan kapasitas yang ada,
Datanglah dengan cerita Anda melalui kanal yang benar.”
Penulis : DL/Edi
Editor: Tim Redaksi Berita Online Puisi
