SMP Negeri 13 Kupang Berjuang di Tengah Badai Zonasi dan Infrastruktur
Kupang.libasmalaka.com – SMP Negeri 13 Kupang tengah berjuang melawan krisis. Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun pelajaran 2025/2026 menunjukkan hasil yang kurang: lantaran hanya 254 siswa yang diterima dari kuota 352 siswa (11 ruang kelas). Kondisi ini membuat hanya 8 ruang kelas yang terisi, jauh di bawah angka rata-rata tahun-tahun sebelumnya (10-11 ruang kelas). Kepala Sekolah SMPN 13 Kupang, Isak Esola, mengungkapkan keprihatinannya saat ditemui media ini Selasa (05/08/2025).
Minimnya pendaftar ini disebabkan oleh dua faktor utama: masalah zonasi dan infrastruktur yang buruk. Perubahan kebijakan zonasi wilayah sekolah telah menimbulkan kebingungan dan berdampak langsung pada jumlah pendaftar. Meskipun upaya telah dilakukan untuk mengkoordinasikan hal ini dengan Dinas Pendidikan, dampaknya masih terasa hingga saat ini.
Kondisi infrastruktur sekolah yang memprihatinkan semakin memperburuk keadaan. Jalan akses menuju sekolah yang rusak parah dan sering tergenang air menjadi penghalang utama bagi calon siswa dan orang tua. Meskipun telah dilakukan perbaikan sementara atas kerjasama dengan pemerintah kota, perbaikan yang lebih komprehensif masih sangat dibutuhkan.
Krisis ini berdampak luas, bahkan hingga ke kesejahteraan guru. Kurangnya jumlah siswa mengurangi jam mengajar, sehingga berdampak pada kesempatan guru untuk mendapatkan sertifikasi. Beberapa guru, terutama guru Bahasa Inggris, terpaksa diberikan tugas tambahan di luar bidang keahlian mereka, seperti pengelola perpustakaan, hanya untuk memenuhi persyaratan sertifikasi.

Menyikapi situasi ini, SMPN 13 Kupang berkomitmen untuk meningkatkan jumlah siswa tahun depan. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem zonasi dan strategi penerimaan siswa akan segera dilakukan. Sekolah juga akan terus memperjuangkan perbaikan infrastruktur yang memadai dan berkelanjutan. Harapannya, dengan perbaikan sistem dan infrastruktur, SMPN 13 Kupang dapat menarik lebih banyak siswa dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif bagi seluruh civitas akademika.
Penulis: Anand Budiman
