Kam. Okt 1st, 2020

Catatan Pinggir ETMC 2019 Malaka (8) Oleh : Herry klau

” Menjawab Kecemasan dan Menoreh Sejarah Hingga Titik Terakhir ”

Mungkin pembaca tak banyak tahu Kabupaten Malaka sebagai kabupaten bungsu dari Provinsi Nusa Tenggara Timur yang resmi berdiri pada tahun 2013 silam hasil pemekaran dari Kabupaten Belu.

Mungkin juga banyak yang tidak tahu, siapa pemimpin perdana kabupaten yang berbatasan langsung dengan perbatasan Indonesia dan Timor Leste ini.

Atau juga banyak yang tidak membayangkan, ketika usai El Tari Memorial Cup 2017 di Ende, Kabupaten Malaka yang akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan turnamen terakbar dua tahunan di NTT ini.

Banyak pertanyaan yang mengikuti di belakangnya. Apakah bisa sebagai kabupaten yang baru berdiri, bisa menjadi tuan rumah dengan menyediakan berbagai fasilitas pendukung, karena harus menerima ribuan tamu dari berbagai pelosok daerah di bumi Flobamorata ini.

Apakah mampu Malaka mampu menjadi penyelenggara yang baik karena mengurus sepak bola bukan hanya urusan di atas lapangan hijau tapi kompleksitas yang melingkupi dan lebih banyak faktor non tekhnis yang dominan.

Apakah mampu, Malaka mencatatkan diri sebagai penyelenggara sukses (luar dan dalam) seperti kabupaten penyelenggara lainnya semisal Ende, Kota Kupang, Ngada, Maumere dan Flotim?

Dan masih banyak pertanyaan yang berkecamuk hingga saat ini.

Satu catatan pribadi yang patut diketengahkan, pertama bahwa pemimpin perdana di Malaka Bupati Stefanus Bria Seran dan Wakil Bupati Daniel Asa (almarhum) berani mengambil resiko ini.
Berani karena di saat yang bersamaan harus bisa berdiri di depan untuk menjadi koordinator, motivator dan inspirator bagi semua warga Malaka, sehingga menjadikan event ini sukses dan luar biasa dibanding penyelenggaraan sebelumnya.

Kedua, pemimpin Malaka mencoba mengangkat harga diri di hadapan kabupaten lain yang lebih tua, bahwa sebagai kabupaten bungsu pun Malaka telah berdiri sejajar dan bahkan bisa melampauai rekor penyelenggara sebelumnya. Karena harapan itu selalu ada di dada setiap anak manusia.

Ketiga, Malaka pun akan memperlihatkan kepada mata dunia luar bahwa di tanah yang subur ini, di dataran wilayah yang bersisian dengan Samudera Hindia, telah mengandung dan melahirkan anak-anak dengan skill rata-rata sebagai pesepak bola yang layak disejajarkan dengan pendahulunya.

Tiga catatan ini melecut dan memacu Pemerintah Kabupaten dan masyarakat Malaka untuk mengacungkan tangan tinggi-tinggi dan menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Bupati Malaka pada setiap kesempatan selalu memberikan motivasi ini.
“Jadikan El Tari Memorial Cup 2019 di Malaka sebagai penyelenggaraan terbaik, yang tidak bisa disamai oleh penyelenggara lain dalam kurun waktu 50-100 tahun,”

Sebuah kalimat dari pemimpin wilayah yang sangat paham dan mengerti potensi daerah dan apa yang mesti dilakukan daerahnya.

Pada kesempatan lain pun, Bupati Malaka tak segan-segan mengungkapkan bahwa sebagai pemimpin, dirinya ingin menghapus kecemasan-kecemasan yang melilit dan mencengkeram sebagai penyelenggara yang baik.

“Saya ingin menjawab berbagai kecemasan itu dengan menjadi tuan rumah yang baik sehingga setiap tamu yang datang merasa at home dan kerasan di Malaka, kabupaten yang sangat subur di tanah Timor ini,” tegasnya.

Seperti apa jawaban-jawaban itu dan apa yang sudah dipersiapkan penyelenggara untuk menyambut tamu dari 20 kabupaten / kota yang akan berkiprah di ETMC 2019 Malaka, ulasannya akan disajikan pada tulisan-tulisan berikutnya. (Bersambung)

error: Ketahuan lo Mau Copi Paste Yaa
%d blogger menyukai ini: