Aktivis Muda Kota Jombang Nilai Open House Lebaran Presiden Prabowo Subianto Perkuat Konsolidasi Nasional
JOMBANG – Aktivis muda asal Kabupaten Jombang, Muhammad Afandi, menilai langkah Presiden Prabowo Subianto menggelar open house atau gelar griya dalam momentum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah sebagai strategi politik yang efektif dalam memperkuat stabilitas nasional di tengah dinamika global.
Menurut Afandi, kegiatan yang berlangsung di Istana Kepresidenan tersebut bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan ruang dialog terbuka yang mempertemukan berbagai elemen bangsa, mulai dari jajaran kabinet, pimpinan lembaga tinggi negara, hingga tokoh nasional lintas generasi.
Minggu (29/3/2026).
“Langkah ini mencerminkan upaya menjaga situasi politik dan keamanan tetap kondusif. Presiden juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu dan bergotong royong menghadapi ketidakpastian global,” ujar Afandi saat ditemui.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Presiden turut menerima kehadiran Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo beserta keluarga. Sebelumnya, Presiden juga melakukan silaturahmi dengan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri di Istana Merdeka.
Afandi menilai, pertemuan lintas tokoh tersebut memiliki makna strategis dalam meredam potensi polarisasi politik serta memperkuat komunikasi kebangsaan. Ia menekankan pentingnya keberlanjutan dialog yang tidak berhenti pada seremoni, tetapi dilanjutkan dalam bentuk komunikasi dua arah yang konstruktif.
“Dialog seperti ini perlu dijaga kesinambungannya agar tercipta kesepahaman bersama dalam membangun bangsa yang aman, maju, dan sejahtera,” katanya.
Lebih lanjut, Afandi menyebut momentum Idul Fitri menjadi ruang yang tepat untuk membangun komunikasi yang lebih cair dan produktif, berbeda dengan dinamika pertemuan formal di ruang-ruang politik lainnya.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh elemen bangsa memiliki peran masing-masing. Pihak pemerintah, kata dia, harus fokus menjalankan program strategis nasional, sementara kelompok di luar pemerintahan diharapkan tetap memberikan kritik yang konstruktif serta fungsi pengawasan.
“Kontribusi pemikiran dari luar pemerintahan sangat penting sebagai second opinion dalam menjaga kualitas kebijakan publik,” ujarnya.
Afandi menilai pendekatan yang dilakukan Presiden menunjukkan kematangan dalam komunikasi politik nasional. Sikap terbuka dan akomodatif terhadap berbagai pihak dinilai sebagai upaya memperkuat persatuan dibandingkan menciptakan konflik.
“Presiden mengedepankan persatuan seluruh elemen bangsa sebagai fondasi utama dalam membangun Indonesia ke depan,” ucapnya.
Ia pun berharap pola kepemimpinan yang mengedepankan dialog dan kebersamaan tersebut dapat terus berlanjut guna mendorong Indonesia menjadi negara yang semakin maju, makmur, dan sejahtera.
( MBS )
