Prof. Dr. rer. nat Sherly da Costa Ilmuwan NTT yang Mendunia layaknya “Einstein” di Jerman mengguncang Panggung Sains Eropa
“Sherly da Costa Mutiara Hitam dari Timur”
Nasional.LintasBatas – Prof. Dr. rer. nat. Apolonia Diana Sherly da Costa, Profesor Riset termuda asal Indonesia, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berhasil meraih gelar doktornya di usia muda dibawah 30 tahun di Universitas Elit Publik, salah satu Universitas Tertua di Jerman, Universitas Friedrich Schiller Jena, Bundes Thuringia, Jerman.
Sosok Prof. Dr. rer. nat. Apolonia Diana Sherly da Costa (asal Buruma-Baucau dan Kisar-Roma Maluku). Lahir di Tanah Timor Timur Distrik Baucau (eks pengungsi Timor Timur), dan besar di Kupang, Timor Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Prof. Dr. rer. nat Sherly da Costa merupakan anak pertama lima bersaudara (Beliau, Adik-adik: Noldin Luther Antonio da Costa, Elsa Maria Auxiliadora Lekipera da Costa, Unamet Mariana Yolanda Lekipera da Costa, dan Angel Alice Lekipera da Costa) dari ayah Augusto da Costa (Buruma-Baucau, Timor Timur), dan ibu Sophia Lekipera (Jerusu-Roma, Maluku) Tenggara) yang saat ini tinggal di Oesapa Kupang (NTT) Indonesia.
Sherly da Costa bukan sekadar akademisi biasa. Ia mencatatkan sejarah sebagai Profesor Riset termuda asal Indonesia di Eropa—sebuah pencapaian yang secara kronologis bahkan melampaui catatan waktu pendidikan sang teknokrat legendaris, Habibie. Di usia yang belum menginjak kepala empat, ia telah menduduki posisi Guest Professor dan Collaborative Project Lead di Universitas Elit Publik, Universitas Münster dengan Soft Funding, Research Track, salah satu institusi riset tertua dan paling bergengsi di Jerman.
Ironi di Tanah Air Indonesia seringkali terjebak dalam romantisme masa lalu. Kita memuja almarhum B.J. Habibie sebagai standar emas intelektualitas, namun di saat yang sama, kita seringkali “buta” terhadap kemunculan sosok-sosok serupa di era modern. Salah satu ironi paling tajam saat ini adalah
Profesor Riset termuda asal Indonesia Timur ini.
Namun, di Jakarta, namanya nyaris tak terdengar. Di kantor-kantor kementerian yang sibuk merancang kebijakan bencana, risetnya yang berjudul “Building Resilience for Flood Disaster in Malaka-Timor” hanya menjadi tumpukan literatur di Buku dan Jurnal internasional seperti Springer Nature, alih-alih menjadi cetak biru penyelamatan nyawa warga di perbatasan Indonesia-Timor Leste. Mengapa negara ini seolah “mengabaikan” mutiara hitam dari Timur ini?. Paradoks “Brain Drain” dan Ego Sektoral Masalah utama yang dihadapi Prof. Sherly bukanlah kurangnya nasionalisme, melainkan dinding birokrasi yang tebal.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan kementerian terkait seringkali terjebak dalam ego sektoral yang hanya mengakui peneliti di dalam sistem mereka sendiri. Sementara itu, ilmuwan diaspora sekaliber Sherly, yang memegang lebih dari 110 penghargaan Regional, Nasional dan internasional, dibiarkan berjuang sendirian di panggung global tanpa jembatan untuk pulang.
Sains yang Menyelamatkan Nyawa
Apa yang ditawarkan Prof. Sherly bukan sekadar teori akademik yang mengawang-awang. Fokus risetnya adalah Resiliensi Bencana Berbasis Komunitas. Ia menggabungkan teknologi tinggi seperti Participatory GIS (Geographic Information System) dengan kearifan lokal masyarakat adat Malaka yang matrilineal.
Di Malaka, NTT, banjir adalah tamu tahunan yang menghancurkan ekonomi warga. Prof. Sherly telah memetakan “Sembilan Aset Resiliensi”—sebuah model yang membuktikan bahwa masyarakat lokal memiliki daya tahan spiritual, budaya, dan sosial yang jika dikelola dengan sains modern, akan menghilangkan ketergantungan pada bantuan darurat pusat yang seringkali datang terlambat.
Sebuah Panggilan untuk Presiden
Presiden Prabowo Subianto dalam visi Asta Cita menekankan kemandirian nasional dan penguatan sains. Namun, visi ini akan menjadi retorika kosong jika pemerintah tetap membiarkan talenta seperti Prof. Sherly “dipinjam” selamanya oleh Jerman dan Negara-Negara Maju lainnya di Benua Eropa.
Kita harus bertanya secara kritis: Mengapa Jerman dan negara Eropa lainnya seperti Austria dan Portugal begitu antusias mendanai riset Prof. Sherly tentang tanah air kita sendiri, sementara kita hanya menonton dari jauh? Apakah kita menunggu negara lain mengklaim hak intelektual atas solusi bencana di tanah kita sebelum kita tersadar?

Kesimpulan: Memulangkan “Habibie Baru” Mengabaikan Prof. Sherly adalah kerugian nasional. Sudah saatnya pemerintah melakukan jemput bola. Bukan sekadar undangan seremonial, melainkan integrasi nyata: jadikan beliau konsultan strategis nasional untuk manajemen bencana di wilayah tertinggal, berikan ruang bagi metodologinya untuk diterapkan secara masif di NTT, dan akui statusnya sebagai Profesor Riset termuda yang mengharumkan nama bangsa.
Jika kita terus mengabaikan mereka yang berprestasi di panggung dunia, jangan salahkan jika generasi muda terbaik kita memilih untuk berkarya bagi bendera lain. Prof. Sherly adalah ujian bagi komitmen Indonesia terhadap sains. Apakah kita akan merangkulnya, atau membiarkannya tetap menjadi “orang asing” di negaranya sendiri?. (***)
Oleh: Pemerhati Kebijakan Publik
Redaksi
