Serak Tangis Pertiwi di Balik Senyum Penguasa

*Selayang Pandang* – Libas Malaka

Nafas bangsa seolah diincar benih kematian. Oleh pil beracun penyokong bencana bernama kebijakan.

Kebijakan yang katanya terbaik, Realitas laksana senjata pembunuh massal bagi rakyat tanpa kompromi. Kenaikan harga bahan bakar.

Ialah awal kenaikan lain di berbagai sektor ekonomi, Indonesia baru saja keluar dari cengkraman pandemi dengan berbagai drama ketidakjelasan.

Kebijakan penyiksa diciptakan ketika ekonomi rakyat kecil tak kunjung temui kestabilan. Hipokrasi rumus terbalik dipertontonkan sang bapak di panggung drama menandakan kejujuran tak dapat diukur dari tampang sederhana di balik senyum penguasa.

Serak tangis pertiwi, Dihadapkan pada kerumitan kasus pembunuhan pengalihan isu media. Ataukah skenario TUHAN dalam rangka pembersihan bangsa dari mafia.

Isyarat pengorbanan bawahan demi membobol tabiat bandit berbintang
Yang kemudian membongkar taringnya sebagai dalang. Menandakan tak semua bintang sebagai lambang kehormatan
Namun ia terkadang status politis yang sarat kepentingan mirisnya.

Kebobrokan penegakan membongkar mafia pengobral hukum yang katanya panglima
Bukankah ia bentuk penghinaan terhadap pasal 1 ayat 3 undang undang dasar 1945.

Pembunuhan sesama anggota institusi dengan indikasi hukum yang masih dibawah transaksi, Lantas bagaimana nasib rakyat kecil yang tak berpangkat tak berharta tanpa kemampuan transaksi agar percuma lapor polisi.

Haram diprotes dengan todongan senjata protes hendak dibayar pembenahan berbasis kinerja bukan pengancaman bahkan pembungkaman berbasis nyawa atas dalih ketertiban rakyat kecil adalah tumbal kepentingan dengan hukum sebagai jembatan.

Ketidakjelasan keberpihakkan komnas HAM pada hak asasi warnai perkara brigadir Joshua pembunuhan buahi drama kejanggalan kawanan sambo masih berkeliaran.

Hei ………
Keadilan hukum masih setia di tawan kemunculan fenomena biorka menyasar kedua penguasa ketika wakil partai tanpa kontrol menuding marwah.

Organ pertahanan selayak gerombolan pemikul bintang tak menahan diri tunggangi institusi mengancam pernyataan, Satu persatu pertentangan antar tokoh hingga kematian misterius.

Ingatkan mubahalah. Akan adanya kuasa di atas kuasa, Lalu datang bencana buatan penguasa oligarki. Berbasis penzaliman
Menyiksa rakyat berulang kali berdasar kebijakan.

Oposisi dan Dewan Perwakilan Kepentingan sejatinya dibantu rakyat jelata dengan hadirnya parlemen jalanan lantas direpresi dengan berbagai alibi provokasi atas nama rongrongan stabilitas keamanan.

Murnikah anarkis mendatangi dari pendemo penghalau kezaliman rezim. Ataukah provokasi justru datang dari unsur negara sebagai propaganda.

Melalui robot penjaga kekuasaan
Negara hendaknya sadar semakin sedikit protes terhadap kesejahteraan maka ia barometer kemajuan.

Jangan salahkan demonstrasi yang muncul kalau kebijakan setan masih diberlakukan
Jangan bicara demokrasi jika aspirasi diamputasi tabiat cengeng penguasa bernama represif.

Kewenangan berlebih ialah cikal bakal arogansi bukan dedikasi ketika rakyat berjuang di jalanan. Kenapa dibalas joget ria perayaan ulang tahun Dewan Perwakilan !!!.

Pantaskah ketidak becusan kinerja 5 tahun digaji pensiun seumur hidup masih banyak abdi bangsa di pusaran kemiskinan tanpa pengistimewaan

Dengan ketidakmampuan rakyat kecil mengakses BBM. Akankah BLT diberikan setiap tahun sampai kiamat ???.

Jangan salahkan jika nalar kami sampai pada dugaan BBM sengaja dinaikkan situasi dimainkan lalu protes diabaikan
Kemudian penguasa bagikan BBM targetkan simpati agar dianggap jurus selamat demi langgengkan kekuasaan.

Hei ………….
Aparat keamanan anda sedang diadu dengan pejuang kemaslahatan perjuangan membawa aspirasi termasuk keluarga anda dan mungkin anda sendiri akan merasakan manfaat jika tuntutan berhasil merubah kebijakan tugas kita.

Sebagai pelanjut estafet kesejahteraan pasca diantar pendahulu ke gerbang kemerdekaan bukan menghancurkan mimpi pertiwi tentang keberlangsungan apalagi keadilan.

Indonesia terlalu banyak orang pintar di tengah orang- orang jujur yang diberangus kelangkaan. Bangsa ini perlu pembenahan bukan perusakan beruntun.

_*Penulis Artikel Opini 2023 : EKO GAGAK*_

About Post Author