Jum. Okt 30th, 2020

Kisah pilu warga Rentung, Satarmese Barat bertahun-tahun hidup dalam gulita

Di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), ternyata masih ada perkampungan yang kurang mendapat perhatian dari Pemerintah. Kampung tersebut adalah Kampung Rentung, Desa Golo Ropong, Kec.Satarmese Barat.

Kampung ini, salah satu wilayah yang hingga saat ini belum tersentuh jaringan listrik. Padahal, Kampung ini memiliki puluhan kepala keluarga.

Selain itu, Program Indonesia Terang (PIT) yang dicanangkan oleh Jokowi juga dalam pelaksanaanya dimulai dari 5 (Lima) Propinsi dibagian timur Indonesia yang salah satunya adalah NTT. Namun hingga saat ini, warga kampung Rentung belum menikmati program ini.

Pada Selasa (15/09/2020), media ini menyambangi kampung Rentung. Saat diwawancarai, puluhan warga kampung Rentung berkumpul dan menceritakan kisah pilu mereka kepada media ini. Mereka kesal atas beda perlakuan yang dilakukan Pemerintah Manggarai dalam hal ini PLN.
“Kami kecewa skali pak, masa kampung yang bersebelahan dengan kami, diperhatikan, sementara kami tidak. Sementara pada saat mereka angkut material seperti tiang listrik dan kabel, lewat dikampung kami ini, ujar warga”.

Warga mengaku jika selama ini mereka masih menggunakan lampu pelita sebagai penerang dimalam hari.

Menjalani hari-hari dengan mengandalkan cahaya dari lampu pelita dimalam hari membuat mereka alami kesulitan. Mereka terpaksa harus menyisihkan uang dari penghasilan mereka untuk membeli minyak tanah sebagai bahan baku lampu pelita.

Warga menuturkan, kesulitan mereka ketika menggunakan pelita adalah saat asyik makan malam lalu tiba-tiba angin bertiup kencang. Warga harus siap menerima kondisi rumah kembali gelap di waktu-waktu tersebut.
“Waktu makan malam tiba-tiba angin kencang, dia (pelita) langsung mati dan kesempatan bagi yang lain untuk ambil lauk diatas piring anggota keluarga lain, cerita mereka disambut tawa warga lain yang membenarkan kisah itu”.

Selain pelita, mereka juga sering membeli bola lampu Sehen (menggunakan accu) dari orang Jawa yang sering melintas di kampung itu.

Namun, usia lampu sehen tersebut tidaklah lama. Syukur-syukur kalau bisa bertahan sampai 2 bulan. Meski begitu, mereka tetaplah membelinya meski harus merogoh goceh.
“Itu orang Jawa yang jual sehen sering kesini pak, karna dia tau klo sekali dia kesini, langsung habis daganganya. Pokoknya kami di kampung Rentung ini yang bikin habis lampu sehennya itu orang Jawa, ujar mereka kembali sambil tertawa”.

Menurut mereka, kondisi kampung mereka ini tidak terkendala baik dari segi infrastruktur maupun kesiapan warga untuk pengadaan meteran. Sehingga mereka sangat heran ketika Kampung mereka diabaikan begitu saja tanpa alasan yang jelas.

Diakhir wawancara, mereka menitip pesan kepada Pemerintah dan PLN Manggarai agar biarkan mereka juga turut merasakan “Merdekanya” Indonesia.
“Sudah 75 tahun Indonesia merdeka, tapi kami disini belum merasakanya. Biarkan kami ikut merasakanya melalui terang listrik”.(Oliz)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: