Teka-Teki Siapa Jagoan Partai Golkar Di Pilkada Malaka 2020

Oleh: John Germanus Seran

Gaung Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Malaka sudah menghangat sejak usainya Pileg dan Pilpres April lalu, walaupun sejatinya proses Pilkada serentak tersebut belum dimulai secara resmi.

Dr. Simon Nahak, SH, M.Hum, Advokad dan Politisi Partai Perindo yang juga Caleg DPR RI dari Partai besutan Hary Tanoesoedibjo tersebut memanasi gaung Pilkada dengan manuver politik yang terbilang cukup berani.

Saya katakan cukup berani karena belum begitu lama Simon bertarung di legislatif melawan Partai Golkar, hanya dalam hitungan bulan Simon memgambil langkah berani untuk berkomunikasi dengan petinggi Partai Golkar untuk menjadikannya kendaraan politik di Pilkada Malaka. Simon mendaftar di DPP Partai Golkar setelah bertemu dan berdiskusi dengan Emanuel Melkiades Lakalena, Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Tentu langkah yang diambil Simon tidak salah dan sah-sah saja. Kata sang bijak, tidak ada lawan abadi atau kawan abadi dalam politik. Yang abadi dalam politik hanyalah kepentingan. Dan lagi, politik itu dinamis, terus mengalir dan berubah.

Selain Simon, ada figur lain yang mendaftar untuk di bertarung di Pilkada Malaka 2020 lewat Partai Golkar. Sebut saja Louis Lucky Taolin atau yang dikenal dengan sapaan Kim Taolin. Kim adalah anggota DPRD Provonsi NTT antar waktu dari Fraksi Partai Golkar. Kim mendaftar di DPD I Partai Golkar Provinsi NTT untuk maju di Pilkada Malaka tahun 2020 mendatang.

Keputusan Kim untuk mendaftar di Partai Golkar sangat tidak dipertanyakan memgingat dirinya adalah seorang kader Partai Golkar. Apalagi, kapasitas untuk itu memang dimilikinya. Pasalnya, Kim adalah seorang anggota DPRD Provinsi NTT yang sedang aktif, walau posisi tersebut diperolehnya sebagai anggota antar waktu.

Selain dua figur di atas, ada figur lain yang telah mendaftar di DPD II Partai Golkar Kabupaten Malaka. Figur tersebut adalah dr. Stefanus Bria Seran, MPH, yang lebih akrab dikenal SBS. SBS adalah Bupati Malaka perdana yang masih memimpin Malaka saat ini.

Tekad SBS untuk bertarung lagi di Pilkada Malaka lewat Partai Golkar tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. SBS membuktikan keseriusannya dengan cara bergabung menjadi anggota Partai Golkar. Senin, 05 Agustus 2019, disela Rakerda Partai Golkar Kabupaten Malaka yang membahas Pilkada 2020, Emanuel Melkiades Lakalena menyerahkan Kartu Tanda Anggota (KTA) Partai Golkar kepada SBS.

Ketika itu, Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi NTT, Emanuel Melkiades Lakalena mengapresiasi masuknya SBS ke dalam Partai Golkar. Lakalena mengatakan, bergabungnya SBS ke dalam Partai Golkar akan memperkuat Partai berlambang Beringin tersebut di Kabupaten Malaka.

Tiga nama sudah mendaftar di Partai Golkar untuk maju sebagai Calon Bupati Malaka. Simon Nahak (SN), Stefanus Bria Seran (SBS) dan Kim Taolin (KT). Oleh Partai Golkar, tiga figur ini diminta atau tepatnya diinstruksikan untuk mensoaialisasikan diri untuk disurvey. Survey tersebut yang akan menjadi dasar pertimbangan untuk memutuskan siapa yang layak maju sebagai jagoan Partai Golkar di Pilkada Malaka tahun 2020.

Tanpa bermaksud mendahului hasil survey tersebut, saya tergelitik untuk menebak teka-teki siapa yang bakal menjadi jagoan Partai Golkar di Pilkada 2020. Sekali lagi, ini hanya tebakan atas teka-teki besar yang selama beberapa bulan terakhir menjadi pergunjingan publiik, siapa jagoan Golkar di Pilkada Malaka 2020?

Layaknya sebuah teka-teki, hemat saya sebenarnya sudah ada beberapa petunjuk atau signal yang bisa merangsang nalar kita untuk menjawab pertanyaan besar, siapa yang bakal menjadi jagoan Partai Golkar di Pilkada Malaka tahun 2020.

Signal pertama, pernyataan Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi NTT sebagaimana dilansir kupang.tribunnews.com, Minggu (10/02/2019), bahwa Partai Golkar telah menjaring bakal calon kepala daerah dan bakal calon kepala daerah jauh-jauh hari sebelum Pileg dan Pilpres, April 2019 dengan maksud agar para bakal calon diuji kemampuannya untuk berkontribusi mendukung Partai Golkar di Pileg dan Pilpres.

“Satu lagi kriteria yang cukup penting ialah kesediaan para balon untuk membantu Golkar NTT memenangkan Pilpres mendatang”, kata Lakalena kala itu.

Merujuk pada petunjuk atau signal ini, maka dari ketiga figur: SN, SBS dan KT, SN sudah pasti tidak memenuhi kriteria yang dimaksudkan Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi NTT, Emanuel Melkiades Lakalena. Mengingat, dalam Pileg kemarin, SN sendiri berjuang untuk dirinya sendiri sebagai Caleg DPR RI dari Partai lain melawan Lakalena sendiri dan Caleg lain dari Partai Golkar.

Sedangkan SBS, walau berada di posisi netral sebagai seorang Kepala Daerah dan non partai (kala itu), telah membuktikan kapasitas dan kinerjanya. Partai Golkar menjadi pemenang di DPRD Kabupaten Malaka dengan perolehan 8 kursi. Di DPRD Provinsi, walaupun wakil dari Kabupaten Malaka belum berhasil meraih kursi, tetapi dengan perolehan suara caleg asal Kabupaten Malaka, Drs. Bria Yohanes yang mendekati 17 Ribu suara, kapasitas SBS tidak bisa serta-merta diragukan. Untuk DPR RI, perolehan suara Caleg Partai Golkar di Kabupaten Malaka juga tidak bisa dibilang jelek.

Kinerja dan kontribusi KT bagi Partai Golkar dalam Pileg dan Pilpres April lalu memang tidak diragukan, mengingat KT adalah seorang Kader dan Anggota DPRD dari Partai Golkar. Tetapi, tidak munculnya nama KT dalam Pileg 2019 tentu memjadi tanda tanya bagi publik Malaka. Jarang ada anggota DPRD tidak mencalonkan diri lagi. Kalau ini terjadi maka penyebabnya kalau bukan pertimbangan pribadi maka karena pertinbangan partai. Dan jika ini terjadi karena pertimbangan partai maka ada hal kurang baik yang berkaitan dengan pribadi yang bersangkutan atau Partai memandang yang bersangkutan tidak memiliki nilai jual dibanding kandidat lain.

Signal ke Dua, pernyataan Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi NTT, Emanuel Melkiades Lakalena, sebagaimana dilansir LikuraiOnline.com, Rabu (07/08/2019), bahwa Partai Golkar akan memperioritaskan kadernya sendiri dalam Pilkada serentak 2020 mendatang.

Merujuk pada signal ini, maka lagi-lagi SN tidak memenuhi kriteria tersebut, mengingat SN sendiri adalah kader Partai Perindo. Sedangkan SBS dan KT adalah kader Partai Golkar, yang (kata Lakalena) menjadi prioritas bagi Partai Golkar dalam memutuskan siapa yang akan diusungnya dalam Pilkada.

Signal ke Tiga, masih dari pernyataan Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi NTT, Emanuel Melkiades Lakalena, sebagaimana dilansir LikuraiOnline.com, Rabu (07/08/2019), bahwa kandidat yang memiliki hasil survey terbaik lah yang akan diusung Partai Golkar dalam Pilkada.

Signal ini tentu memihak ketiga calon ini sekaligus. Sebenarnya ketiga figur mempunyai peluang yang sama. Namun ada satu hal yang membuat peluang itu jadi berbeda. Jika survey didasarkan pada popularitas kandidat, maka fakta bahwa SBS sudah 4 tahun memimpin Malaka akan lebih dikenal rakyat Malaka ketimbang SN yang baru intens ke Malaka setahun terakhir karena mencalonkan diri sebagai Caleg pada Pemilu lalu dan KT belum familiar bagi masyarakat Malaka.

Dinamika politik masih terus mengalir. Semua hal bisa terjadi sebelum palu diketuk. Ibarat kata, semua kemungkinan bisa terjadi selama janur kuning belum melengkung. Mungkin SN? Mungkin KT? Mungkin SBS? Atau ada kemungkinan ke empat atau ke lima? Proses itu sedang berjalan dan akan terus berjalan hingga teka-teki itu terjawab.*(wartawan likuraionline.com, tinggal di Malaka)

(Ananda)

%d blogger menyukai ini: