Rab. Sep 23rd, 2020

Catatan Pinggir ETMC 2019 Malaka (bagian 5-6)

IMG-20190607-WA0078

“Ketika Mata Visioner SBS Menyulap Besikama Jadi Kota Familiar”

Masih tentang Besikama. Kota Kecamatan yang sering dijuluki “kuala lumpur” karena setiap tahun diterjang banjir bandang yang datang dari TTS, TTU dan Belu. Kota yang berlumuran lumpur dan terendam air, ketika luapan air dari Benanain tak tertahankan dari tahun ke tahun, kala itu. Realiatas yang terbantahkan memang.

IMG-20190607-WA0062

Juga masih tentang Besikama, kota tua yang melahirkan ribuan manusia yang kini mengabdi kembali di ibu pertiwinya, tanah tumpah darahnya. Ratusan cendikiawan yang melalang buana di persada nusantara. Puluhan cerdik pandai yang sudah mengharumkan nama persadanya di belahan dunia ini.

IMG-20190607-WA0077

Tentang Besikama, tak perlu ditanya seberapa banyak ceritera dan kisah tentang Kota Tua yang memyimpan ribuan kenangan yang tak bisa diuraikan satu per satu.

Satu kisah yang selalu melekat dan tertanam rapi di benak adalah kisah tentang rumah , lahannya, milik kepunyaannya yang hanyut dan hilang terbawa arus banjir. Kisah tentang robohnya gubuk-gubuk di tengah kebun. Kisah tentang pahit getirnya berhadapan dengan musibah alam ini. Identik memang, tapi kita tak kuasa menolaknya, karena hanya ada satu Maha yang berkuasa atas diri manusia dan alam.

Akan tetapi, semua ceritera duka, kisah tragis dan traumatis itu perlahan-lahan sirna dan pupus. Bayangan ketakutan yang selama ini mendera lambat laun pergi dan punah. Yang ada kini, senyuman yang tersungging dari bibir-bibir mungil anak-anak sekolah, karena tak lagi bertelanjang kaki ketika ke sekolah. Yang kini ditemui di jalan-jalan adalah mama-mama dan bapak-bapak yang bergigi coklat kemerahan karena sirih pinang dan tembakau yang selalu terselip di mulutnya, lantaran hasil alamnya tidak lagi rusak. Kaum remaja pun seakan tak pernah ingat lagi akan realitas yang diceriterakan orang tuanya tentang carut marutnya kehidupan usai lumpur pekat amis berwarna kopi susu itu.

Semua itu melayang dan terbang jauh, karena keyakinan teguh dan kepercayaan kokoh tentang banjir yang tak mungkin datang menghadang masa depan wilayah dataran ini.

Ketika tanggul sepanjang Desa Haitimuk hingga Sikun dan Oan Mane dibuat di era kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Malaka (Stefanus Bria Seran-Daniel Asa) keinginan untuk kembali hidup dan bergerak serentak membuncah di wajah setiap orang Besikama. Hati berkobar-kobar untuk kembali bangkit dari keterpurukan. Niat terpancang tegak pada setiap bilah-bilah hati anak Besikama untuk menjadikan daerahnya subur, daerah yang penuh susu dan madu. Daerah penghasil pisang dan kelapa.

Simbol pertama yang bersinggungan erat dengan pembuatan tanggul adalah sulapan gundukan humus tanah subur yang “didermakan” dari Kabupaten Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara dan Belu melalui aliran air sungai Benenain. Gundukan yang menumpuk di jalan raya dipoles kembali jadi indah dan elok seperti tak ada bekas.

“Dahulu, setelah diterjang banjir jalan raya lingkar Besikama seperti aliran air sungai. Muncul selokan kecil-kecil, Jalan-jalan hancur dan berlubang. Akses transportasi sangat sulit dan serba terbatas. Tapi sekarang, semua sudah ditata seperti tak pernah terjadi banjir. Jalan raya yang begitu mulus di era kepemimpinan SBS sangat nyata, simbol kebangkitan yang sangat signifikan,” ungkap Camat Malaka Barat, Efraim Bria Seran.

Bukan hanya jalan lingkar Besikama, sedikit bergeser ke arah Timur mulai dari Besuri, Katara hingga Sikun dan Oan Mane masyarakat dimanja dengan jalan raya hotmix yang sangat mulus. Daerah-daerah ini dulunya kantong banjir yang tak bisa dilewati tapi sekarang sudah menjadi wilayah yang asri dan sangat indah.

Bergerak ke arah selatan, wilayah Desa Umatoos yang terletak persis di belakang gereja Santo Yohanes Babtista Besikama, jalannya sudah mulus dan dihotmix hingga ke Loomota menuju Pantai Abudenok, salah satu destinasi wisata di Malaka.

Dan berseberangan dengan Lapangan Misi Besikama, ada satu ikon yang tinggal nama yakni Rumah Sakit Katolik Marianum yang dikelola para Suster Abdi Roh Kudus.
Keberadaannya hanya bisa dikenang karena di kala itu, Rumah Sakit Katolik ini menjadi satu-satunya fasilitas kesehatan di Malaka Barat, Weliman, Wewiku hingga Rinhat.

Ikon ini telah hilang dan lenyap, puing-puingnya sudah dibersihkan dan Bupati SBS akan menjadikan bekas reruntuhan itu kebun percontohan untuk penanaman bawang merah malaka. Sudah barang tentu, akan menambah indahnya Lapangam Misi Besikama.

Mengapa ceritera tentang Besikama terlihat detail dan terkesan tuntas. Itu semua mau menggambarkan betapa Besikama punya nama besar dan setiap orang ingin datang melihatnya.

El Tari Memorial Cup 2019 di Malaka dengan memilih Lapangan Misi Besikama sebagai salah satu tempat pertandingan, takkan terpisah dari penggalan kisah-kisah ini.
Setiap orang yang datang, akan terpana dengan sentuhan-sentuhan adat Wesei Wehali yang kental.

Mobil dan motor yang bersileweran di ruas jalan lingkar Besikama, menunjukkan daerah ini jadi Kota Baru yang wajahnya semakin cantik.

Teringat sebuah tulisan kecil dari seorang teman wartawan nasional ketika berkunjung ke Besikama tahun 2007 silam

“Akan kukabarkan kepadamu, tentang diriku,
Namun kamu terlanjur mengenalku lebih jauh dan dalam,
Bahkan kubiarkan dirimu memelukku kuat-kuat dalam bayang
Seperti gadis-gadis Besikama yang berperangai ramah, berkata santun dan tertawa renyah…
Aku ingin semakin dekat padamu, Besikama”

Selamat datang di Kota Besikama….(bersambung)

Catatan Pinggir ETMC 2019 Malaka (6)
Oleh : herry klau

“Betun, Panggung Heterogenitas Rumah Kita Sendiri”

Siapapun yang pernah datang dan menginjakkan kaki di Malaka, pasti akan melewati kota yang satu ini. Sebagai ibu kota kecamatan dan serentak ibu kota kabupaten, Betun punya kekhasan dan keunikan tersendiri. Betun punya wajah sendiri dan Betun punya wangi tersendiri pula.

Betun, dengan esensi dan eksistensi kehidupannya sendiri memberikan nuansa lain dibanding kecamatan lainnya. Nuansa yang tidak biasa dan sedikit terkecil pongah tapi adem.

Nuansa kota kecil mulai tercium dari bangun pagi hingga petang datang menjemput. Kesibukan manusia dan lalu lintasnya sangat terasa dan kental.
Wajah Betun mulai dipoles dan dipercantik dengan berbagai atribut.

Catatan tentang Betun, kini dan di sini, sedikit mengulas tentang heterogenitas masyarakatnya yang membaur jadi satu, menjadi ikatan yang kuat, erat dan tak terpisahkan.

Setiap pagi, ketika adzan mesjid menggema dan bertalu-talu, kesibukan masyarakatnya mulai menggeliat. Penjual bergegas menjajakan barang jualannya di pasar dan pinggir-pinggir jalan. Pendorong gerobak mulai berjalan mengitari Kota Betun dan yang punya mobil mengangkut barangnya untuk pergi ke pasar yang jauh. Tak ketinggalan para penjaja kue mulai membuka warungnya, sementara anak-anak sekolah dan pekerja kantoran mulai bergegas. Para petani pun mulai berjalan menuju kebun dan sawahnya. Pemandangan yang sangat romantis di tengah udara pagi yang segar dan original.

Ketika matahari mulai beranjak naik, para toko di sepanjang Pasar Bei Abuk mulai dibuka, dan para pembeli pun mulai berdatangan.
Tak jarang terdengar pula teriakan sopir-sopir mikrolet dan rental yang berjejal di sepanjang jalan, diselingi tawaran jasa untuk mengangkut penumpang menuju tempat tujuan.

Rutinitas itu sepanjang hari dan setiap waktu, bergerak mengikuti irama waktu yang terus maju dan takkan kembali lagi ke belakang.

Menjelang El Tari Memorial Cup 2019 yang digelar di Kabupaten Malaka, Betun sebagai ibu kota kabupaten akan menyambut para tamu yang berdatangan memenuhi lorong-lorong kehidupan Kota Betun.

Para tamu pun akan berhadapan dan menemui situasi ini, sehingga dengan wajah heterogenitas yang sangat kental, tidak membuat tamu merasa asing tapi sebaliknya berada di rumah sendiri.

Aroma Betun akan membuat adrenalin para pemain terlecut dan bergairah, ketika memasuki Lapangan Umum Betun yang “angker” bagi siapa saja yang bertanding di dalamnya.

Setiap memasuki lapangan ini, para pemain akan merasakan desiran dada yang berbeda, ketika melihat wajah-wajah perempuan Betun yang sangat maniak bola.
Mereka akan berteriak di pinggir lapangan, memberikan semangat kepada pemain pujaannya. Dan siapa saja pasti akan larut dalam gelombang itu.

Lapangan umum Betun pun akan menegaskan siapa juara sejati ETMC 2019 jikalau Panitia menghendaki finalnya dihelat di situ.

Seperti apa angker dan magisnya Lapangan Umum Betun, akan diulas pada catatan berikutnya.

Selamat datang di Kota Betun. (bersambung)

%d blogger menyukai ini: