RD80 TEGAS: JANGAN KLAIM SUARA RAKYAT NTT JIKA TAK PERNAH TURUN MENDENGAR RAKYAT
RD80 TEGAS: JANGAN KLAIM SUARA RAKYAT NTT JIKA TAK PERNAH TURUN MENDENGAR RAKYAT
LibasMalaka.Com|KUPANG, NTT — Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Randi Agnisio Durhaman (RD80), menyampaikan sikap tegas terkait kehadiran Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, di Nusa Tenggara Timur.
Randi meminta kepada pihak-pihak yang selama ini sibuk mengkritisi kehadiran Jokowi di NTT agar tidak berbicara seolah-olah mewakili seluruh masyarakat NTT.
Menurutnya, memahami suara rakyat NTT tidak cukup hanya dengan melihat dari kejauhan, apalagi sekadar menyampaikan pendapat dari ruang yang nyaman. Untuk benar-benar memahami masyarakat NTT, seseorang harus turun langsung ke lapangan, masuk ke kampung-kampung, bertemu masyarakat, dan mendengarkan sendiri apa yang mereka rasakan.
«”Kalau ingin memahami NTT, jangan hanya duduk di ruang ber-AC dan berbicara dari jauh. Jalanlah lebih jauh. Turunlah ke kampung-kampung. Temui rakyat dan dengarkan langsung apa yang mereka rasakan,” tegas Randi.»
Ia menegaskan bahwa NTT bukan milik satu partai politik, bukan milik satu kelompok, dan bukan pula panggung eksklusif bagi pihak tertentu yang merasa paling berhak berbicara atas nama rakyat.
Randi mengatakan, masyarakat NTT memiliki hak yang sama dalam menentukan siapa yang ingin mereka sambut, hormati, dan dengarkan. Karena itu, menurutnya, tidak boleh ada pihak yang memaksakan pandangan politiknya seolah-olah seluruh masyarakat NTT memiliki sikap dan pemikiran yang sama.
“Masyarakat NTT punya hak untuk menyambut siapa pun yang mereka hormati. Masyarakat NTT juga punya hak untuk memiliki kedekatan emosional dengan pemimpin yang pernah hadir dan bekerja untuk mereka,” ujarnya.
Ia juga mengakui bahwa dalam negara demokrasi, setiap orang memiliki hak untuk menyukai maupun tidak menyukai seorang tokoh politik. Namun, perbedaan sikap tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk mengklaim bahwa seluruh rakyat memiliki pandangan yang sama.
“Kalau ada yang tidak suka dengan kehadiran Pak Jokowi, silakan. Itu hak dalam demokrasi. Tetapi jangan kemudian memaksakan seolah-olah seluruh masyarakat NTT berpikir sama dengan Anda,” tegasnya.
Randi mengingatkan agar tidak mudah mengatasnamakan rakyat apabila belum benar-benar turun ke lapangan dan mendengar suara masyarakat secara langsung.
“Jangan klaim suara rakyat kalau Anda tidak pernah benar-benar mendengar suara rakyat,” katanya.
Menurut Randi, kehadiran Jokowi di NTT dan sambutan masyarakat merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang harus dihormati. Masyarakat memiliki kebebasan untuk menunjukkan sikap dan penghormatan kepada siapa pun yang mereka anggap berjasa atau memiliki tempat tersendiri di hati mereka.
“Bapak Jokowi datang ke NTT, masyarakat menyambut. Itu fakta yang harus dihormati,” ujarnya.
Sebagai kader PSI sekaligus anggota DPRD NTT, Randi juga mengingatkan semua pihak agar tidak membiarkan perbedaan politik menghilangkan akal sehat dan rasa persaudaraan.
Menurutnya, perbedaan pilihan politik adalah sesuatu yang wajar dalam demokrasi. Begitu pula dengan perbedaan pandangan terhadap seorang tokoh maupun kebijakan pemerintah. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya membuat masyarakat saling bermusuhan atau menghalangi seseorang untuk datang dan menyapa rakyat.
“Politik jangan membuat kita kehilangan akal sehat. Berbeda pilihan boleh, berbeda pandangan boleh. Tetapi jangan sampai perbedaan politik membuat kita memusuhi siapa pun yang datang menyapa rakyat NTT,” tegas Randi.
Ia menilai, kritik tetap merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, kritik sebaiknya diarahkan pada kebijakan, program, maupun gagasan yang memang dianggap perlu dikritisi, bukan pada hak masyarakat untuk menyambut seorang tokoh.
“Kalau ada yang ingin mengkritik, silakan kritik kebijakannya. Silakan kritik programnya. Silakan kritik gagasannya. Tetapi jangan menghalangi hak masyarakat untuk menyambut seorang tokoh yang mereka hormati,” katanya.
Randi juga mengajak semua pihak yang merasa paling mengetahui kondisi dan suara masyarakat NTT untuk turun langsung ke lapangan.
Ia mengajak siapa pun yang ingin berbicara tentang rakyat NTT agar terlebih dahulu berjalan lebih jauh, masuk ke desa-desa, duduk bersama masyarakat, dan mendengarkan langsung aspirasi mereka.
Menurutnya, hubungan antara masyarakat dengan seorang pemimpin tidak selalu dapat diukur hanya melalui kalkulasi politik. Ada pengalaman, sejarah, kedekatan emosional, rasa hormat, dan kenangan yang terbentuk selama perjalanan seorang pemimpin bersama masyarakat.
Hal-hal tersebut, kata Randi, tidak bisa begitu saja dihapus hanya dengan komentar di media sosial atau kritik yang disampaikan dari kejauhan.
“Kalau kita benar-benar mau mendengar suara rakyat NTT, kita akan tahu bahwa hubungan rakyat dengan seorang pemimpin tidak selalu bisa diukur hanya dari kalkulasi politik. Ada sejarah. Ada kedekatan emosional. Ada rasa hormat. Dan itu tidak bisa dihapus hanya dengan komentar atau kritik di media sosial,” ungkapnya.
Di akhir pernyataannya, Randi kembali menyampaikan pesan tegas kepada pihak-pihak yang terus mempertanyakan kehadiran Jokowi di NTT.
Ia meminta agar perdebatan mengenai kehadiran seorang tokoh tidak berubah menjadi upaya untuk mengklaim bahwa hanya satu kelompok yang paling memahami suara masyarakat.
“Jangan bicara terlalu jauh tentang rakyat NTT kalau Anda sendiri tidak pernah berjalan cukup jauh untuk mendengar mereka,” tegas Randi.
Ia menambahkan bahwa NTT merupakan tanah yang terbuka bagi siapa saja. Setiap orang memiliki hak untuk datang, menyapa masyarakat, dan membangun komunikasi dengan rakyat.
Pada akhirnya, kata Randi, masyarakatlah yang memiliki hak untuk menentukan siapa yang ingin mereka sambut, siapa yang mereka hormati, dan siapa yang mereka percaya.
“NTT adalah tanah yang terbuka. Siapa pun boleh datang. Siapa pun boleh menyapa. Dan rakyat NTT berhak menentukan sendiri siapa yang ingin mereka sambut,” pungkasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa dalam demokrasi, perbedaan pandangan merupakan hal yang biasa. Namun, suara rakyat tidak seharusnya diklaim secara sepihak. Sebab, pada akhirnya, rakyat NTT sendirilah yang memiliki hak untuk berbicara, memilih, menyambut, dan menentukan sikap mereka.
Editor: Andry Bria
Redaksi: LibasMalaka.com – Suara Rakyat, Fakta & Integritas
