LPRI Turun ke Desa: Sajian Keadilan dari Bumi yang Bersuara

Upfoto_60cJXhEdsAQj5qmAMIxLo5vzPOH5cVD92sHyFq3Eqj2PK~2
Spread the love

KUPANG, 08 Maret 2026 –
Bukan hanya kata-kata di atas kertas putih, bukan hanya suara yang bergema di ruang rapat tertutup,
hari ini, langkah kaki menyentuh tanah Desa Tilong dan Oelomin,
LPRI membawa meja kerja ke tengah hamparan lahan yang berselisih.

“Fakta tidak tumbuh di atas meja kayu,”
ucap Rezky dengan nada tegas seperti akar pohon yang mengakar dalam,
“Kita harus mendengar napas bumi, merasakan debu yang berpindah tangan,
bertemu mata dengan setiap jiwa yang merindukan tempat untuk berdiri.”

Tim berjalan melintasi semak dan jalan tanah yang berliku,
dengan buku catatan dan kamera yang siap menangkap setiap jejak,
Tommy, Bang Tumanggor, Jance Kaborang, Jeane Lena Nguru, Yandri Matias Pello, dan Paulus Edi Sumantri , mengukur bukan hanya luas lahan, tetapi juga kedalaman harapan yang tertanam di hati setiap pihak.

Sengketa tanah bukan hanya tentang garis dan batas,
ia adalah cerita tentang rumah yang ingin dibangun,
ladang yang ingin ditanami, tempat di mana anak-anak bermain,
kesejahteraan yang dicari dengan kerja keras tangan terbuka.

“Setiap pengaduan adalah panggilan untuk menjaga keadilan,”
suara bergema seperti ombak pantai yang menghampiri pasir,
“Prosesnya harus jelas seperti sinar matahari di pagi hari,
agar tidak ada yang tertinggal dalam bayangan ketidakpastian.”

Di tengah hamparan lahan yang pernah menjadi sumber konflik,
kini tumbuh benih pemahaman yang disiram dengan kerja sama,
LPRI tidak hanya membawa harapan dalam tas investigasi,
melainkan menyajikan keadilan yang tumbuh dari akar yang sama – bumi NTT.(Edi)