Sang Juru Masak, Sang Pendekar dan Sang Pendoa Itu Telah Pergi 

Spread the love

(catatan kecil untuk teman almarhum Theodorus Fahik)

Wekatimun, Atambua mungkin menjadi ceritera bagi kami beberapa orang yang kini harus berbeda lokasi karena tugas dan pekerjaan.

Wekatimun mungkin juga menjadi catatan sejarah bagi kami, saat kami berpeluh keringat, saat kami dengan wajah lelah dan pakaian kumal, saat kami dengan sepatu kets tua tercabik-cabik, saat kami dengan langkah kaki gontai menyusuri lorong-lorong, saat kami merasakan panasnya tembok-tembok di sepanjang jalan dan saat kami duduk berbagi ceritera di sebuah rumah tua.

Wekatimun menyimpan sejumlah kisah kami yang tak pernah usai diceriterakan pada anak-anak kami, hingga kami tua nanti. Dan ceritera ini hadir kembali di saat, ada satu atau dua orang yang karena kehendak yang kuasa, harus pergi mendahului ke Rumah Bapa.

Tahun 2003 awal, di saat Kabupaten Belu masih berdiri sendiri (Kabupaten Malaka belum dimekarkan) kami beberapa anak muda yang punya idealisme yang tinggi tapi taraf hidup dan ekonomi pasang surut bahkan kembang kempis, hidup bersama di sebuah rumah tua di Wekatimun.

Kami bergelut dengan pekerjaan kami sebagai jurnalis/wartawan media lokal yang saban hari kami sendiri meliput berita, kami sendiri yang mengedit, kami sendiri yang layout, kami sendiri yang antar ke Kupang untuk cetak, kami sendiri yang sortir dan kami sendiri yang distribusi.

Pekerjaan ini tidak gampang. Susah sekali. Karena tanpa modal yang cukup tapi kami sudah berani berdiri sendiri dan membiayai hidup sendiri dengan berjualan Koran. Kami lakukan itu dengan spirit yang tinggi. Motivasi yang menjulang setinggi gunung Lakaan dan harapan yang luas seperti pantai Abudenok.

Bertahun-tahun lamanya kami menggeluti dunia ini. Dunia yang nyata bukan dunia khayalan. Dunia yang membuat kami bertemu dan bertegur sapa dengan siapa saja. Dunia yang mengajarkan kami tentang bagaimana bertahan hidup. Dunia yang menawarkan kepada kami lebih banyak duka dan kisah pahit dibanding kisah manis dan empuk. Tapi kami dibalik semua itu kami diajarkan untuk kuat menjalin rasa persaudaraan, rasa kekeluargaan yang bertahan hingga detik ini.

Di tahun 2003 itu, dengan hanya bermodalkan ‘langkah kaki’ dan sesekali dengan sepeda motor yang kadang mogok di tengah jalan, kami berjuang bersama.

Saya boleh sebut ada Markus Bria Berek (mantan anggota DPRD Malaka), Yulius Halek, Estha Mali, Umbu Lodongo, Robertus Bria Seran (ASN di Belu), Petrus Seran (Wiraswasta di Malaka), Heribertus Kolo, dan beberapa yang lainnya. Ada juga Theodorus Fahik, yang kisahnya bersama kami, saya coba ingat dan deskripsikan secara lugas pada catatan kecil ini.

Seorang Theo Fahik atau biasa kami panggil Om Theo, mungkin karena umurnya dan juga karena tubuhnya gempal dan berisi. Walau fisiknya bulat tapi gerakannya sangat lincah bahkan menurut pengakuannya saat pertama bertemu, dia adalah seorang karateka. Dan dia menunjukkan jurus-jurus dan gerakannya di hadapan kami, sehingga membuat kami menaruh hormat padanya dan kami juga merasa ada yang nanti melindungi kami, jika terjadi sesuatu. Anggap saja, Om Theo adalah palang pintu terakhir dan senjata pamungkasnya kelompok kami.

Kebersamaan yang kami pupuk itu menjadikan kami 1 keluarga kecil yang ‘baku tahu’ kesukaan kami, keinginan kami dan masalah-masalah kami. Tak jarang, kami mendapati berbagai masalah dan tantangan yang tidak sedikit. Kami bahkan diancam untuk tidak boleh liputan ke suatu tempat, gara-gara kami mengadvokasi sebuah persoalan. Ada juga yang datang lempar rumah kami, karena kami merasa kami mengganggu aktivitas, dan lain sebagainya.

Walau berbagai masalah datang silih berganti, tapi tak menyurutkan kaki kami untuk terus melangkah. Dan dalam situasi seperti itu kami ‘sodor’ Om Theo untuk berdiri di depan. Ibarat seorang Jendral yang melindungi bawahannya di saat ada ancaman.

Salah satu yang sangat kami hafal dari seorang Om Theo adalah karena rajin masak dan racikan bumbu-bumbunya. Dia sedikit ‘sombong’ di hadapan kami, bahwa dia pintar masak itu karena bekerja dengan bule-bule saat masih merantau di Bali. Kami percaya saja. Selain untuk memberikan support tapi juga supaya beliau terus menyajikan masakan enak untuk kami makan. Salah satu masakan kesukaan yang kami anggap mewah pada zaman itu adalah ikan teri dibalik sambal dan ikan pindang. Kalau beliau hidangkan ini, nasi 1 periuk pun akan ludes oleh anak-anak yang sedang kelaparan. Dan kami makan sambil tertawa sepuasnya sebelum kami berjibaku dengan komputer WS usang di depan kamar, untuk mengetik berita yang kami bawa pulang pada notes kecil atau kertas HVS yang dilipat bagi 4.

Ceritera lain dari seorang Om Theo selain pintar masak dan seorang karateka, beliau juga selalu berdoa dan menjamah kami. Kalau beliau sudah ‘tumpangkan’ tangan di atas kepala kami lalu tutup mata dan berdoa, kami sepertinya mendapat angin segar dan penyakit yang kami rasakan itu hilang. Entah karena sugesti atau alam bawah sadar, tapi itu sering beliau lakukan untuk kami. Beliau juga pernah berceritera, kalau dia ada kekuatan karena pernah ‘bertapa’ di kampungnya di Lahurus. (dan kami menjuluki beliau sebagai sang tabib dari Lahurus).

Seiring perjalanan waktu, kami membentuk lagi sebuah media lokal yang bernama Timor Line. Kami masih sering bersama dan berkumpul lagi, tapi intensitasnya sudah mulai berkurang. Kami beberapa orang masuk ke dalam dunia birokrasi dan beberapa yang lainnya memilih tetap bertahan di dunia media.

Kami akhirnya berpisah dengan kisah kami masing-masing, dengan dunia kami masing-masing dan dengan hidup kami masing-masing. Bahkan saya harus pindah tugas dan mengabdi di Malaka, tanah tumpah darah. Kami sering saling kontak tapi dengan Om Theo, kami hilang kontak. Terakhir dua tahun lalu, kami mendapat kabar kalau beliau sudah kembali ke kampung halamannya.

Hari ini, 11 November 2024, jam 06 pagi membaca di Medsos, Om Theo sudah berpulang ke Rumah Bapa di surga. Orang baik itu telah pergi. Sang juru masak, sang pendekar dan sang pendoa itu telah pergi selamanya. Selamat jalan teman, sampai bertemu di Yerusalem Baru, tempat kita semua akan kembali berkumpul di sana, bersama dalam satu tanah air surgawi.

Salam dan doa dari kami teman-temanmu. Malaka, pukul 13.51 wita.