14 Agustus 2026

Usai Terima Insentif, Guru Ngaji Harap Bupati Radityo Egi Pratama Berikan Perhatian Serta Tingkatkan Kesejahteraan

InCollage_20260814_210223912~2
Spread the love

libasmalaka.com, Lamsel – Keadilan Ekonomi Kesejahteraan adalah hak dasar setiap pekerja dan pengajar yang mencurahkan waktu serta tenaganya untuk umat, Guru ngaji harus disejahterakan karena mereka adalah fondasi moral bangsa yang mendidik anak-anak mengenal Al-Qur’an dan akhlak mulia.

Hal itu diungkapkan, Guru ngaji Desa Rawi Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel), Ustadz Hasyim usai menerima insentif guru ngaji dari Pemerintah desa (Pemdes) setempat, Jum’at (14/08/2026).

Ustadz Hasyim berharap Pemerintah Daerah (Pemda) Lampung Selatan di bawah kepemimpinan bupati Radityo Egi Pratama agar dapat memberikan perhatian lebih serius serta meningkatkan kesejahteraan guru ngaji

“Bukan kami tidak bersyukur dari apa yang kami dapat saat ini,  Namun tanpa bantuan ekonomi yang layak dari pemerintah, guru ngaji sering kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sambil terus memikirkan operasional tempat mengaji,” Ungkapnya.

“Harapan kami, bupati Radityo Egi Pratama agar dapat meningkatkan kesejahteraan guru ngaji untuk menjaga generasi bangsa selanjutnya lebih baik,” Harap Ustadz Hasyim.

Terpisah, Kepala desa (Kades) Rawi, M. Amin usai penyerahan insentif guru ngaji menerangkan, Guru ngaji didesanya mendapatkan insentif sebesar 600 ribu dalam satu tahun,” Adanya efisiensi anggaran kita hanya mampu berikan Rp 50 ribu perbulanya,” Terang M. Amin.

“Guru ngaji ini sebelum ada efisiensi anggaran, insentifnya bisa sampai Rp 100 ribu persatu bulan jadi satu tahunya Rp. 1,2 juta,” Imbuhnya.

Terkait harapan guru ngaji kepada bupati Radityo Egi Pratama menurut M. Amin hal tersebut merupakan hal yang wajar,” Meski sering mengandalkan keikhlasan, beban hidup yang berat dan minimnya penghargaan membuat kesejahteraan mereka krusial agar pengabdian tetap berjalan,” Ujarnya.

“Mereka (guru ngaji – Red) membentuk akhlak, menanamkan adab, dan menjaga iman generasi. Namun, pengabdian itu kerap ditunaikan dalam keterbatasan imbalan ala kadarnya, kepastian penghasilan yang rapuh, dan akses sosial dasar yang tidak selalu memadai. Realitas ini menuntut perhatian lebih serius,” Pungkasnya.    ( Iqbal/ Sf)

About Post Author