Ricuh Penertiban Kandang Ayam di Lahan PDAM Surabaya, Ketua RT Mengaku Jadi Korban Dugaan Penyerangan
SURABAYA – Upaya penertiban kandang ayam yang berdiri di atas lahan aset milik PDAM di kawasan Kampung Ponten, Ondomohen, Surabaya, Senin (4/8/2026) siang, berujung ricuh. Seorang Ketua RT 1 setempat mengaku menjadi korban dugaan penyerangan oleh pemilik kandang saat proses penertiban berlangsung.(4/8)
Ketua RT 1, Glen, menjelaskan bahwa lahan yang menjadi objek penertiban bukan merupakan fasilitas umum (fasum), melainkan aset milik PDAM yang selama ini pengelolaannya dititipkan kepada masyarakat setempat. Oleh karena itu, proses penertiban dilakukan bersama pihak PDAM dan melibatkan sejumlah unsur terkait.
“Perlu saya tegaskan bahwa lahan itu bukan fasum. Kalau fasum, saya sebagai RT bisa langsung mengambil tindakan. Namun karena itu merupakan lahan milik PDAM, maka penertiban dilakukan bersama pihak PDAM,” ujar Glen kepada awak media.
Menurutnya, lahan tersebut telah dimanfaatkan oleh salah seorang warga sebagai kandang ayam petarung. Bahkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, lokasi tersebut diduga beberapa kali dijadikan tempat aktivitas sabung ayam, meskipun disebut tidak menghadirkan kerumunan dalam jumlah besar.
Glen mengungkapkan bahwa kandang ayam berada di dua titik yang dinilai tidak semestinya digunakan untuk kepentingan pribadi. Lokasi pertama berada di area taman yang seharusnya berfungsi sebagai ruang terbuka hijau, namun dialihfungsikan menjadi kandang ayam. Sedangkan lokasi kedua berada di samping taman baca yang selama ini dimanfaatkan anak-anak dan warga untuk membaca, belajar, serta berbagai kegiatan sosial.
“Area tersebut merupakan ruang komunal yang seharusnya bisa dimanfaatkan seluruh masyarakat, bukan digunakan untuk kepentingan pribadi,” katanya.
Melihat kondisi tersebut, pihak PDAM kemudian melakukan penertiban dengan melibatkan perangkat Kelurahan, pengurus RW, bagian aset PDAM, serta Manajer Humas PDAM. Proses penertiban, menurut Glen, dilakukan secara persuasif tanpa adanya tindakan represif.
Namun situasi berubah ketika pemilik kandang diduga emosi dan menganggap Ketua RT sebagai pihak yang melaporkan keberadaan kandang kepada PDAM.
“Padahal saya bukan pelapor. Penertiban ini dilakukan karena memang lahannya merupakan aset milik PDAM yang harus dikembalikan sesuai peruntukannya,” jelasnya.
Dalam insiden tersebut, Glen mengaku menjadi korban dugaan penganiayaan. Ia menyebut pelaku diduga mengayunkan sebuah obeng ke arah lehernya saat suasana memanas.
“Pelaku sempat mengayunkan obeng ke arah leher saya. Beruntung saya berhasil menghindar sehingga hanya mengenai bagian rahang. Kalau tidak menghindar, mungkin leher saya yang menjadi korban,” ungkapnya.
Peristiwa itu disebut terjadi di hadapan sejumlah saksi, termasuk perwakilan PDAM, perangkat Kelurahan, pengurus RW, serta warga yang berada di lokasi penertiban.
Usai kejadian tersebut, Glen berharap lahan milik PDAM dapat dimanfaatkan kembali sesuai fungsinya demi kepentingan masyarakat luas.
“Nantinya kami akan berkoordinasi dengan PDAM agar lahan ini dimanfaatkan untuk kepentingan warga, seperti menjaga kebersihan lingkungan, penghijauan, atau fasilitas umum lainnya yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat, bukan hanya untuk kepentingan satu atau dua orang,” tuturnya.
Terkait dugaan penyerangan yang dialaminya, Glen mengaku saat ini lebih memikirkan keselamatan keluarganya dibandingkan dirinya sendiri. Ia berharap persoalan tersebut dapat diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Yang saya pikirkan sekarang adalah keselamatan anak dan istri saya di rumah. Saya juga bekerja dan mengetahui seperti apa rekam jejak orang yang saya hadapi. Saya berharap persoalan ini dapat diproses sesuai ketentuan hukum. Jika memang memungkinkan dilakukan mediasi, itu menjadi kewenangan pihak terkait. Namun fokus utama saya saat ini adalah keamanan keluarga,” tegasnya.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan Ketua RT, dugaan penyerangan tersebut dilakukan oleh pemilik ayam sekaligus pemilik kandang yang sebelumnya ditertibkan dari lahan milik PDAM.
Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat keterangan resmi dari pihak terduga pelaku terkait tuduhan tersebut. Selain itu, berdasarkan informasi di lokasi, tidak tampak kehadiran personel kepolisian saat proses penertiban berlangsung. (yud)
