Dari Trotoar Menuju Berkah, Kisah Ketekunan dan Doa Pasutri Menembus Langit Hinggah Mengubah Nasib
SURABAYA – Kota Surabaya selalu punya cara sendiri untuk menempa mental para pejuangnya. Di balik megahnya gedung pencakar langit dan riuhnya klakson kendaraan di kawasan Kecamatan Asem Rowo, terselip sebuah kisah heroik tentang bertahan hidup, cinta, dan doa yang menembus langit. Ini adalah kisah tentang Nur Fadilah dan Achmad, pasangan suami istri (pasutri) yang membuktikan bahwa ketekunan tidak akan pernah mengkhianati hasil.
Bagi pengguna jalan yang kerap melintasi Jalan Raya Tanjung Sari Nomor 83, Kelurahan Asem Rowo, aroma gurih bumbu bebek goreng yang khas pasti sudah tidak asing lagi. Kuliner legendaris tiruan kaki lima itu dikenal dengan slogan pemicu selera: “Bebek Guntur”. Namun, di balik kelezatan sebungkus nasi bebek hangat dengan sambal korek yang menggugah selera tersebut, ada garam kehidupan yang teramat asin yang harus ditelan oleh Nur Fadilah dan Achmad selama bertahun-tahun.
Berselimut Asap Jalanan dan Bayang-Bayang Penertiban
Perjalanan bisnis Bebek Guntur tidak dimulai di dalam ruko yang nyaman dengan kipas angin yang sejuk. Bertahun-tahun lalu, modal utama pasutri ini hanyalah sebuah gerobak kayu sederhana berukuran 1,5 x 2 meter persegi. Gerobak kecil itulah yang menjadi saksi bisu bagaimana keringat mereka bercucuran demi menyambung hidup dan menghidupi keluarga.
Letak gerobak mereka bersandar pasrah pada tembok di atas trotoar badan jalan. Sebuah area yang sejatinya melanggar aturan karena diperuntukkan bagi pejalan kaki, bukan untuk tempat berniaga. Sadar posisi mereka rentan, Nur Fadilah dan Achmad harus hidup dalam kecemasan setiap harinya.
“Mau tidak mau, hampir acap kali dalam sebulan kami harus berbenturan dengan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP),” kenang Achmad dengan mata berkaca-kaca mengingat masa-masa sulit itu.
Kejar-kejaran dengan petugas yang menegakkan Peraturan Daerah (Perda) menjadi menu bulanan yang wajib mereka hadapi. Rasa takut kehilangan mata pencaharian berbaur dengan rasa lelah setelah seharian mempersiapkan dagangan. Namun, di tengah ketegasan aturan, selalu ada sisi humanis dari Kota Pahlawan. Petugas Satpol PP memberikan toleransi: mereka baru diperbolehkan menggelar lapak di atas jam 6 sore.
Waktu yang singkat itu mereka manfaatkan dengan luar biasa. Begitu matahari tenggelam dan jam menunjukkan pukul 18.00 WIB, dengan cekatan Nur Fadilah dan Achmad mulai meracik hidangan. Meski waktu berjualan terbatas dan bayang-bayang penertiban selalu mengintai, semangat pasutri ini tidak pernah surut selangkah pun. Semua getir itu mereka telan demi senyum anak-anak di rumah.
Kekuatan Doa dan Konsistensi Rasa
Bagi Nur Fadilah, bumbu rahasia dari Bebek Guntur bukan hanya perpaduan ketumbar, bawang, atau lengkuas, melainkan untaian doa yang tidak pernah putus ia panjatkan kepada Tuhan Sang Maha Khalik. Di sela-sela membalik bebek di wajan yang panas, hatinya selalu berzikir meminta keajaiban.
Masyarakat Surabaya dikenal sebagai konsumen kuliner yang kritis. Jika rasa makanan biasa saja, mereka tidak akan kembali. Namun Bebek Guntur punya magnet tersendiri. Daging bebeknya yang empuk, bumbunya yang meresap hingga ke tulang, dipadu sambal yang pedasnya mantap, membuat pelanggan rela mengantre meski hanya di pinggir trotoar. Konsistensi rasa inilah yang membuat Bebek Guntur perlahan memilik tempat khusus di hati para pencinta kuliner Asem Rowo.
Pelanggan setia setahap demi setahap mulai berdatangan, membawa rezeki yang kemudian ditabung sedikit demi sedikit oleh Nur Fadilah. Keuntungan jualan tidak dihamburkan, melainkan diputar kembali dengan mimpi besar: suatu hari mereka harus punya tempat jualan yang layak dan legal.
Buah Manis Perjuangan Pindah ke Rumah Baru yang Legal
Tuhan tidak pernah tidur melihat hambanya yang memeras keringat di jalanan. Setelah melewati lika-liku kehidupan yang penuh pilu, air mata pasutri ini kini berubah menjadi senyum syukur yang merekah lebar.
Bukti nyata dari kekuatan doa dan kerja keras itu akhirnya terwujud. Kini, Bebek Guntur tidak lagi harus kucing-kucingan dengan petugas Satpol PP. Mereka telah resmi berpindah ke tempat usaha yang permanen dan layak, yang lokasinya untungnya tidak jauh dari tempat lama mereka menyandarkan gerobak, yakni tetap di kawasan strategis Jalan Raya Tanjung Sari No. 83, Kelurahan Asem Rowo, Kecamatan Asem Rowo, Surabaya.
Warung baru ini kini resmi berdiri kokoh dengan papan nama yang jelas, di mana Nur Fadilah tercatat sebagai pemilik sahnya. Tidak ada lagi ketakutan akan hujan angin yang membubarkan tenda, tidak ada lagi rasa was-was saat mobil patroli petugas lewat.
“Ini semua adalah mukjizat dari doa dan kesabaran. Kami berterima kasih kepada warga Surabaya dan para pelanggan yang terus mendukung kami dari bawah,” tutur Nur Fadilah dengan wajah sumringah di warung barunya.
Kisah Nur Fadilah dan Achmad dengan Bebek Guntur-nya adalah potret riil dari “arek-arek” Surabaya yang tangguh. Mereka membuktikan bahwa kemiskinan dan keterbatasan tempat bukanlah alasan untuk menyerah pada nasib. Dari sebuah gerobak trotoar berukuran 1,5 x 2 meter, kini menjelma menjadi warung makan yang menjadi inspirasi bagi banyak pelaku UMKM di Kota Surabaya. Bahwa di kota ini, siapapun yang mau berjuang, bertahan, dan berdoa, pasti akan diberikan jalan untuk memanen manisnya keberhasilan. (yud)
“Artikel Kisah Nyata Sosok Pasutri Asem Rowo Pejuang Mengais Rezki di Kota Pahlawan”
