28 Juni 2026

🗣️ Kekayaan Alam Melimpah, Rakyat Tetap Miskin? Profesor Sutan Tanya: Ke Mana Hasil SDA Selama Puluhan Tahun?

IMG-20260628-WA0015
Spread the love

JAKARTA .libasmalaka.com – Indonesia dikenal sebagai negeri yang sangat kaya raya. Kekayaan alamnya melimpah, mulai dari daratan hingga lautan, seolah tak pernah habis untuk dimanfaatkan. Namun di balik kekayaan itu, muncul pertanyaan mendasar yang menggelisahkan: mengapa masih banyak masyarakat di daerah penghasil sumber daya alam justru hidup dalam keterbatasan dan kemiskinan?

Hal ini disampaikan oleh Prof DR KH Sutan Nasomal, SH, MH, pakar hukum pidana internasional dan ekonomi nasional, dalam wawancaranya di kantor pusat Partai Oposisi Merdeka, Cijantung, Jakarta, pada Sabtu (28/6/2026).

“Indonesia sangat kaya. Bahkan ibaratnya, sebatang tongkat yang ditancapkan di tanah ini pun bisa tumbuh menjadi pohon dan berbuah manis. Saya yakin program yang dijalankan Presiden Prabowo Subianto pasti bertujuan untuk kepentingan negara dan bangsa. Mari kita dukung sepenuh hati,” ujarnya.

Namun, dukungan itu tidak lantas membuatnya menutup mata terhadap realita yang terjadi di lapangan. Profesor Sutan menekankan pentingnya keterlibatan dan pengawasan masyarakat agar setiap kebijakan berjalan benar dan bermanfaat hingga ke akar rumput.

Kekayaan Dieksploitasi, Rakyat Tak Merasakan Manfaat

Ia menyoroti praktik pengelolaan sumber daya alam, khususnya pertambangan batu bara. Setiap tahun, puluhan juta ton batu bara diambil dan dijual, memberikan keuntungan bagi negara dan perusahaan mitra. Namun, pertanyaan besarnya: Apakah warga asli daerah tempat tambang itu berada ikut sejahtera?

“Ratusan tahun hutan itu menjadi sumber kehidupan mereka. Dulu panen melimpah, rakyat bisa menabung, membeli peralatan pertanian, bahkan emas. Sekarang hutannya habis dibabat, tanahnya digali, airnya tercemar. Yang tersisa hanya debu dan lahan tandus,” ungkapnya.

Data menunjukkan sekitar 369.356 hektare hutan hilang akibat pertambangan, dan selama 30 tahun terakhir jutaan hektare lagi beralih fungsi. Begitu juga dengan nikel, timah, emas, gas, dan minyak bumi yang tersebar di berbagai provinsi seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Hasilnya melimpah, namun pembangunan di daerah penghasil seringkali tertinggal—jalan rusak, listrik belum merata, dan kesejahteraan belum terasa.

Ke Mana Hasil Kekayaan Alam?

Poin yang paling ditonjolkan adalah keterkaitan antara kekayaan alam dan kondisi keuangan negara. “Sudah 81 tahun Indonesia merdeka, sudah berkali-kali berganti kepemimpinan. Jika hasil penjualan SDA mencapai ratusan triliun setiap tahun, mengapa utang negara hampir menyentuh angka 10.000 triliun rupiah? Ke mana saja uang itu mengalir?” tegasnya.

Profesor Sutan menegaskan bahwa keterbukaan informasi adalah kunci. Masyarakat berhak tahu berapa yang dihasilkan, ke mana disalurkan, dan apa dampak lingkungan serta sosial yang harus diperbaiki pasca-eksploitasi.

Ia tetap menyampaikan harapan besar kepada pemerintahan saat ini. “Saya percaya Presiden Prabowo bekerja keras. Semoga sistem yang selama ini salah dapat diperbaiki, suara rakyat didengar, dan kekayaan alam negeri ini benar-benar menjadikan seluruh rakyat Indonesia makmur dan sejahtera, bukan hanya segelintir pihak saja,” pungkasnya.

Narasumber:

Prof DR KH Sutan Nasomal, SH, MH

Pakar Hukum Pidana Internasional & Ekonomi Nasional

Presiden Partai Oposisi Merdeka, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia

About Post Author