Menapaki Jejak Wali Nusantara : Habib Luthfi, Abuya Ahmad Yani Iliyin dan Ulama Gelar Ziarah Kebangsaan di Bangkalan
BANGKALAN – Suasana penuh khidmat dan kesejukan ruhani menyelimuti kawasan makam ulama besar Nusantara, Syaikhona Mohammad Kholil Bangkalan dan Nyai Hj. Muthmainnah Aschal yang wafat pada 29 Februari 2024 adalah Pengasuh Pondok Pesantren Putri Syaikhona Moh. Cholil, yang merupakan cicit dari Syaikhona Kholil. di bawah langit yang teduh, lantunan dzikir, istighfar, dan doa-doa mengalun lembut, membelah keheningan dengan nuansa spiritual yang begitu mendalam.
Selasa, 19/05/2026.
Rombongan ulama, habaib, para santri, dan jamaah larut dalam kekhusyukan, menundukkan hati dalam rangkaian ziarah kebangsaan yang sarat makna.
Kegiatan yang bukan sekadar perjalanan fisik itu menjadi perjalanan batin menuju sumber keberkahan dan mata rantai keilmuan para ulama Nusantara.
Hadir dalam rombongan tersebut ulama kharismatik Indonesia Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya atau yang lebih dikenal sebagai Habib Luthfi, bersama Ketua PW JATMA Aswaja Jawa Timur Abuya Ahmad Yani Iliyin yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin Dusun Sumberwaru RT 02/RW 03 Desa Sumberwaru, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Di hadapan makam sang maha guru para ulama Nusantara itu, para jamaah duduk bersimpuh dengan penuh adab. Kepala-kepala tertunduk, tangan-tangan terangkat, sementara ayat-ayat suci Al-Qur’an dan bacaan tahlil menggema mengisi ruang hati yang dipenuhi rasa haru.

Ziarah ini bukan sekadar mengenang sosok besar yang telah wafat. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi momentum menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan para ulama terdahulu. Sebab dalam pandangan kaum ulama Ahlussunnah wal Jamaah, ziarah bukanlah hanya datang ke makam, melainkan menyambungkan hati kepada mata air keteladanan, akhlak, dan perjuangan.
Syaikhona Mohammad Kholil Bangkalan dikenal sebagai salah satu poros utama keilmuan Islam Nusantara. Dari tangan beliau lahir dan ditempa para ulama besar yang kemudian menerangi berbagai penjuru negeri. Banyak tokoh besar pernah berguru kepada beliau, dan keberkahan ilmunya terus mengalir lintas generasi.
Abuya Ahmad Yani Iliyin dalam kesempatan itu menyampaikan bahwa perjalanan ziarah kebangsaan memiliki makna yang sangat dalam bagi generasi saat ini, terutama dalam menjaga persatuan bangsa dan menghidupkan kembali kecintaan terhadap ulama.
“Para ulama terdahulu tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan kecintaan kepada bangsa dan tanah air. Karena itu, ziarah seperti ini adalah ikhtiar menjaga sanad ruhani, sanad ilmu, sekaligus sanad perjuangan,” ungkapnya.
Menurutnya, bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh kekuatan ekonomi dan teknologi, tetapi juga oleh kekuatan spiritual yang tertanam dalam jiwa masyarakatnya. Nilai-nilai ketulusan, persaudaraan, dan cinta kepada agama serta tanah air merupakan warisan para ulama yang harus dijaga.
Sementara itu, kehadiran Habib Luthfi dalam rombongan ziarah menambah kekuatan makna acara tersebut. Selama ini Habib Luthfi dikenal istiqamah menyerukan pentingnya merawat sejarah bangsa melalui jejak para ulama dan para pejuang.
Beliau sering menyampaikan bahwa bangsa yang kehilangan ingatan terhadap sejarah dan ulama akan mudah kehilangan arah. Karena itu, ziarah kebangsaan bukan sekadar tradisi, melainkan sarana menumbuhkan kesadaran spiritual dan nasionalisme yang lahir dari nilai agama.
Suasana semakin syahdu ketika doa-doa dipanjatkan untuk keselamatan bangsa, keberkahan negeri, persatuan umat, dan keteguhan generasi muda agar tetap memegang ajaran Islam rahmatan lil alamin.
Di tengah lantunan shalawat yang menggema, banyak jamaah tampak meneteskan air mata.
Sebab bagi mereka, perjalanan menuju makam para kekasih Allah bukanlah sekadar menempuh jarak, melainkan perjalanan membersihkan hati dari kesombongan dunia.
Langkah kaki para peziarah seakan menjadi pengingat bahwa kehidupan di dunia hanyalah persinggahan sementara, sedangkan amal dan pengabdian kepada umatlah yang akan terus dikenang.
Ziarah kebangsaan di makam Syaikhona Kholil Bangkalan itu akhirnya menjadi cermin bahwa hubungan antara ulama, pesantren, masyarakat, dan bangsa merupakan ikatan yang tidak dapat dipisahkan. Dari tanah para wali dan ulama besar itulah cahaya ilmu terus menyala, menerangi perjalanan umat dari masa ke masa.
Dan dari Bangkalan, tanah yang pernah melahirkan mutiara besar umat, gema doa kembali naik ke langit: semoga keberkahan para ulama senantiasa menaungi negeri ini, menjaga persatuan bangsa, dan menuntun generasi menuju jalan yang diridhai Allah SWT.
( MBS / Tim )
