Pendopo Agung Trowulan Berselimut Gema Sholawat: Haul Leluhur Menghidupkan Warisan Spiritual Nusantara

20260510_090555-COLLAGE
Spread the love

MOJOKERTO – Malam yang penuh keberkahan menyelimuti kawasan bersejarah Pendopo Agung Trowulan Mojokerto, Sabtu malam. Ribuan jamaah, santri, tokoh masyarakat, ulama, hingga pecinta sholawat memadati lokasi dalam acara bertajuk “Haul Para Leluhur dan Dzikir Kebangsaan” yang dipimpin langsung oleh Abuya Ahmad Yani Iliyin, Pengasuh Pondok Pesantren Internasional Al-Iliyin sekaligus Mursyid Tunggal Jam’iyah Sholawat Ibrahimiyah.
Nuansa sakral begitu terasa sejak awal acara, Sabtu 09/05/2026 malam.

Lantunan ayat suci Al-Qur’an, gema dzikir, serta sholawat yang menggema di bawah bangunan joglo bersejarah menghadirkan suasana spiritual yang mendalam. Jamaah tampak khusyuk mengikuti rangkaian acara yang tidak hanya menjadi momentum doa bersama, namun juga pengingat akan perjuangan para leluhur Nusantara.

Dalam tausiyahnya, Abuya Ahmad Yani Iliyin mengawali dengan salam dan doa penuh kasih kepada seluruh santri putra-putri Pondok Pesantren Internasional Al-Iliyin serta para jamaah yang hadir.

“Semoga semuanya diberikan sehat wal afiat, panjang umur yang penuh keberkahan, dan selalu dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tutur beliau dengan suara penuh kelembutan.

Acara tersebut juga dihadiri para tokoh Jam’iyah Sholawat Ibrahimiyah, para pengurus yayasan, tokoh masyarakat, hingga tamu kehormatan dari luar negeri, termasuk perwakilan dari Korea Selatan. Hadir pula ulama kharismatik dari Madura, Syekh Muhammad H., Pengasuh Pondok Pesantren Darul Qur’an Pamekasan sekaligus mursyid thariqah yang sangat dihormati para jamaah.

Haul Bukan Sekadar Mengenang Kematian Dalam penyampaian yang penuh hikmah, Abuya Ahmad Yani Iliyin menegaskan bahwa haul bukan sekadar memperingati wafatnya seseorang. Menurut beliau, haul adalah upaya mengenang sejarah perjuangan, meneladani akhlak para pendahulu, serta menyambungkan ruh spiritual antara generasi sekarang dengan para leluhur yang telah berjasa membangun peradaban.

“Haul itu bukan memperingati kematian. Jangan disalahartikan. Haul adalah mengingat perjuangan, mengenang jasa para leluhur, dan mengambil hikmah kehidupan mereka,” ungkapnya.

Beliau kemudian mengajak jamaah untuk memahami bahwa bangsa Indonesia sejak dahulu merupakan bangsa besar yang memiliki peradaban luhur. Nusantara, menurut beliau, telah dikenal sebagai negeri gemah ripah loh jinawi, negeri yang kaya, damai, dan menjadi pusat perhatian bangsa-bangsa dunia.

Spiritualitas dan Sejarah Nusantara
Dalam ceramah yang penuh semangat kebangsaan, Abuya juga mengulas kisah perjuangan Nusantara di masa lampau, termasuk kejayaan Majapahit dan strategi para leluhur dalam mempertahankan tanah Jawa dari ancaman asing.

Beliau menyinggung kisah Ronggolawe dan kekuatan armada Nusantara yang mampu menghadapi kekuatan besar dari luar negeri melalui kecerdikan strategi perang di lautan. Menurutnya, sejarah tersebut menunjukkan bahwa bangsa Indonesia sejak dahulu tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki kekuatan spiritual yang besar.

“Spiritual mengalahkan segala-galanya. Bangsa ini besar karena doa para wali, para ulama, dan para leluhur yang menjaga Nusantara dengan kekuatan batin,” jelasnya.

Jamaah yang hadir tampak larut dalam penjelasan sejarah yang dipadukan dengan nilai-nilai tauhid dan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Sesekali lantunan sholawat menggema memenuhi pendopo, membuat suasana semakin haru dan menenangkan hati.

Seruan Persatuan Bangsa dan Umat
Abuya Ahmad Yani Iliyin juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah derasnya arus fitnah, adu domba, dan kepentingan politik global yang dapat memecah belah masyarakat.

Beliau menegaskan bahwa perpecahan antara ulama, habaib, pemerintah, dan rakyat merupakan ancaman besar bagi bangsa Indonesia. Karena itu, majelis dzikir dan sholawat harus menjadi tempat menyatukan hati serta memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah.

“Jangan mudah diadu domba. Kalau ulama, habaib, masyarakat, dan pemerintah pecah, negara ini mudah dihancurkan. Yang rugi rakyat Indonesia sendiri,” tegas beliau di hadapan jamaah.
Seruan tersebut disambut takbir dan lantunan “Shollu ‘alan Nabi Muhammad” dari ribuan jamaah yang memenuhi lokasi acara.

Sholawat Sebagai Cahaya Kehidupan
Puncak acara berlangsung penuh haru ketika seluruh jamaah bersama-sama melantunkan dzikir Laa Ilaaha Illallah dan sholawat Nabi Muhammad SAW. Banyak jamaah tampak meneteskan air mata, larut dalam kekhusyukan malam spiritual tersebut.

Abuya menjelaskan bahwa dzikir dan sholawat merupakan jalan membersihkan hati dari aura negatif serta membuka pintu ampunan Allah SWT.

“Ketika hati dipenuhi dzikir dan sholawat, maka energi positif akan masuk dalam diri kita. Allah akan membersihkan dosa-dosa hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mengingat-Nya,” tutur beliau.

Beliau juga mengajak seluruh jamaah untuk terus menjaga tradisi sholawat, dzikir, dan majelis ilmu sebagai benteng moral di tengah zaman yang penuh fitnah dan kegelisahan spiritual.

Malam itu, Pendopo Agung Trowulan tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya manusia, tetapi juga menjadi saksi bersatunya doa, sejarah, cinta tanah air, dan kerinduan umat kepada Rasulullah SAW.

Di bawah langit malam Trowulan, cahaya dzikir dan sholawat seakan menghidupkan kembali ruh perjuangan para leluhur Nusantara menghadirkan harapan agar Indonesia tetap kokoh dalam iman, persatuan, dan keberkahan.

( MBS )