Cahaya Istiqomah di Malam Ahad: Lautan Dzikir dan Sholawat Menggema dalam Majelis Tholabul Ilmi
WRINGINANOM, GRESIK — Malam Ahad yang tenang di kawasan Wringinanom berubah menjadi samudera spiritual yang dipenuhi lantunan dzikir dan sholawat. Ratusan jamaah dari berbagai penjuru daerah berkumpul di Pondok Pesantren Internasional Al-Iliyin untuk menghadiri Majelis Istiqomah Pengaosan dan Sholawatan “Tholabul Ilmi”, Sabtu malam (02/05/2026).
Kegiatan rutin yang digagas oleh Jam’iyah Sholawat Ibrohimiyah ini kembali menghadirkan suasana religius yang mendalam. Dipimpin langsung oleh Abuya Ahmad Yani Iliyin selaku Mursyid Tunggal sekaligus pengasuh pondok pesantren, majelis ini tak hanya menjadi agenda keagamaan biasa, melainkan ruang penguatan ruhani yang dinanti banyak kalangan.
Sejak awal acara, nuansa kekhusyukan telah terasa. Para santri yang mengenakan busana putih tampak berbaur dengan jamaah umum yang didominasi pakaian hitam, menciptakan harmoni visual yang menenangkan. Lantunan sholawat menggema bersahutan, berpadu dengan pembacaan Maulid Simtudduror yang menggetarkan hati. Suasana menjadi semakin syahdu ketika jamaah larut dalam dzikir; sebagian terpejam, sebagian lainnya tak kuasa menahan air mata haru.
Dalam tausiyahnya, Abuya Ahmad Yani Iliyin menegaskan bahwa perjalanan menuntut ilmu bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi jalan spiritual yang harus ditempuh dengan adab, keikhlasan, dan kesungguhan.

Ia mengingatkan bahwa keberkahan ilmu terletak pada bagaimana ilmu itu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Ilmu yang tidak disertai adab akan kehilangan makna, dan sholawat tanpa rasa cinta hanya akan menjadi lantunan kosong. Maka satukan keduanya dalam hati,” tutur beliau dengan penuh keteduhan, disambut keheningan jamaah yang menyimak dengan penuh hormat.
Majelis ini juga menjadi titik temu ukhuwah Islamiyah. Hadirnya para habaib, kyai, tokoh agama, serta masyarakat dari berbagai latar belakang menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dalam bingkai cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Di tengah dinamika kehidupan modern, kegiatan ini menjadi oase yang menyejukkan jiwa sekaligus mempererat tali silaturahmi.
Lebih dari sekadar rutinitas, “Tholabul Ilmi” telah menjelma menjadi gerakan spiritual yang hidup. Ia menanamkan kesadaran bahwa menuntut ilmu adalah ibadah sepanjang hayat, yang harus dibarengi akhlak mulia dan nilai-nilai Islam yang membawa rahmat bagi semesta.
Menjelang penutup acara, gema sholawat kembali memenuhi langit malam, dilanjutkan dengan doa bersama yang dipanjatkan penuh harap. Setiap tangan terangkat, setiap hati bermunajat, memohon keberkahan, keselamatan, dan kekuatan untuk terus istiqomah di jalan Allah.
Malam itu bukan sekadar pertemuan biasa. Ia menjadi jejak spiritual yang tertanam dalam sanubari setiap jamaah sebuah pengingat bahwa di tengah hiruk pikuk dunia, selalu ada ruang untuk kembali mendekat kepada Sang Pencipta melalui ilmu, dzikir, dan sholawat yang tak pernah padam.
( MBS )
