Riyadho Spiritual Jawa–Sumatra 2026: Menapaki Jejak Auliya’, Menghidupkan Dzikir Menuju Cinta dan Ridha Ilahi

20260410_165059-COLLAGE
Spread the love

WRINGINANOM, GRESIK – Semangat menapaki warisan spiritual para ulama Nusantara kembali diwujudkan oleh Jama’ah Sholawat Ibrohimiyah Gresik melalui kegiatan rihlah ruhani bertajuk Riyadho Spiritual Jawa–Sumatra 2026. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Guru Mursyid sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Internasional Al-Iliyin, Desa Sumberwaru, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Jum’at, (10/04/2026).

Sebanyak 25 jama’ah turut ambil bagian dalam perjalanan yang sarat makna tersebut. Menggunakan dua unit kendaraan minibus, rombongan berangkat dari Gresik dengan niat ibadah, mengusung semangat dzikir serta harapan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Perjalanan ini bukan sekadar mobilitas lintas pulau, melainkan sebuah proses rihlah ruhaniyah yang menggabungkan dimensi fisik dan batin.

Perjalanan diawali dengan ziarah ke wilayah Purwakarta, Jawa Barat, tepatnya di Kecamatan Babakancikao. Di tempat tersebut, jama’ah berziarah ke makam Syekh Abdurrahman Addardiri. Lantunan sholawat dan doa bersama menggema khidmat, menjadi pembuka rangkaian kegiatan yang memperkuat niat serta menyatukan hati dalam mengharap keberkahan dari para kekasih Allah.
Usai dari Pulau Jawa, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Merak untuk menyeberang ke Pulau Sumatra melalui Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Dalam perjalanan laut selama kurang lebih dua jam, suasana dzikir dan doa tetap mengalun, menciptakan nuansa kontemplatif di tengah luasnya samudra, sekaligus mempertebal rasa tawakkal kepada Sang Pencipta.

Memasuki wilayah Sumatra Barat, jama’ah melanjutkan ziarah ke sejumlah titik penting dalam sejarah Islam Minangkabau. Di antaranya adalah makam Raja Adityawarman yang dikenal pula sebagai Syekh Abdurrahman Baluluk di kawasan Bukittinggi. Selain itu, rombongan juga mengunjungi makam Syekh Khotib Sambas Minangkabau yang memiliki kontribusi besar dalam perkembangan tarekat di Nusantara.

Tak hanya ziarah, kegiatan ini juga diisi dengan refleksi nilai-nilai moral melalui kunjungan ke Pantai Air Manis, lokasi yang dikenal dengan legenda Malin Kundang. Kisah tersebut menjadi pengingat pentingnya berbakti kepada orang tua dalam ajaran Islam.
Puncak kegiatan berlangsung di Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, dengan ziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan, tokoh besar penyebar Islam di Minangkabau sekaligus figur penting dalam tarekat Syattariyah. Di lokasi yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional tersebut, jama’ah melaksanakan dzikir, doa bersama, serta penguatan spiritual dalam suasana penuh kekhusyukan.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Kabupaten Dharmasraya dengan mengunjungi makam Datuak Gadang Tuanku Dauli Sikabau atau Datuak Cancang Latiah, tokoh yang dikenal sebagai pendiri Nagari Sikabau.

Rombongan juga menelusuri jejak sejarah ke kawasan Candi Pulau Sawah di Siguntur serta Candi Padang Roco yang menjadi saksi peradaban masa lampau.
Dalam perjalanan pulang, jama’ah menyempatkan diri berziarah ke sejumlah makam ulama di Lampung, di antaranya Keramat Tubagus Yahya di Teluk Betung Barat serta Syekh Muhammad Faqih di wilayah Panjang, Bandar Lampung. Rangkaian riyadho kemudian ditutup dengan ziarah ke makam Sultan Maulana Hasanuddin di Banten, pendiri Kesultanan Banten sekaligus putra Sunan Gunung Jati.

Selama kurang lebih dua pekan perjalanan, para jama’ah tidak hanya menempuh jarak geografis, tetapi juga menjalani proses penyucian jiwa atau tazkiyatun nafs. Kegiatan ini menjadi sarana memperkuat keimanan, memperdalam dzikir, serta mempererat ukhuwah Islamiyah di antara sesama peserta.

Dalam tausiyahnya, Guru Mursyid Abuya Ahmad Yani Iliyin, menegaskan bahwa riyadho bukan sekadar perjalanan wisata religi, melainkan latihan spiritual untuk mengendalikan hawa nafsu, meningkatkan keikhlasan, dan meneladani perjuangan para ulama dalam menyebarkan Islam.
Salah satu jama’ah, Abah Ahmad Amanu Salim, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini membawa keberkahan dan manfaat bagi seluruh peserta.

“Semoga perjalanan ini menjadi wasilah turunnya barokah, memperkuat cinta kepada Rasulullah SAW, serta menumbuhkan semangat persatuan umat,” ujarnya.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi spiritual Islam Nusantara tetap terjaga dan terus hidup di tengah perkembangan zaman. Nilai-nilai dzikir, kecintaan kepada Allah SWT, serta keteladanan para ulama menjadi cahaya yang menuntun perjalanan umat menuju ridha-Nya.

(MBS)