Padepokan Bino Roso Sejati Menghidupkan Filosofi Ketupat: Harmoni Islam dan Kearifan Jawa dalam Tradisi Lebaran
JOMBANG — Muhammad Afandi biasa di sapa Gus Afan (Pimpinan sekaligus Guru Besar Padepokan)
Alamat : Dusun Gading RT/RW 015/004. Desa Tugusumberjo. Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang.
memaparkan
Nuansa religius dan kearifan lokal kembali dipancarkan oleh Padepokan Bino Roso Sejati yang beralamat di Dusun Gading, Desa Tugusumberjo, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang.
Melalui pemaparan Muhammad Afandi atau yang akrab disapa Gus Afan, masyarakat diajak menyelami makna filosofis ketupat sebagai simbol spiritual yang sarat nilai Islami dalam tradisi Lebaran.
Sabtu, 28/03/2026.
Dalam penjelasannya, Gus Afan menegaskan bahwa tradisi bukan sekadar peninggalan leluhur, melainkan ruh kehidupan yang menyatukan nilai agama, budaya, dan sosial.
Ketupat, yang menjadi ikon saat Hari Raya Idul Fitri hingga tradisi “Bakda Kupat”, mencerminkan ajaran luhur tentang harmoni, toleransi (tasamuh), serta kesadaran bahwa kebenaran mutlak hanyalah milik Allah SWT.
Sejarah panjang tradisi ini juga tak lepas dari peran Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa melalui pendekatan budaya.
Ketupat pun menjadi simbol akulturasi indah antara syariat Islam dan tradisi lokal yang membumi serta mudah diterima masyarakat.
Janur Kuning: Simbol Jalan Menuju Ilahi
Janur kuning yang dianyam menjadi ketupat mengandung makna mendalam. Dalam filosofi Jawa, “janur” dimaknai sebagai sejane ning nur jalan menuju cahaya Ilahi.
Warna kuning melambangkan kemurnian hati dan ketulusan jiwa, menjadi doa agar manusia kembali fitrah setelah menjalani ibadah Ramadan.
Bentuk Ketupat: Kiblat Papat Limo Pancer
Bentuk segi empat ketupat menggambarkan konsep kiblat papat limo pancer, yakni empat arah mata angin dengan satu pusat.
Filosofi ini mengajarkan bahwa ke mana pun manusia melangkah, tujuan akhirnya tetap satu: Allah SWT. Secara batiniah, ini juga merepresentasikan pengendalian empat nafsu manusia menuju ketenangan jiwa (mutmainah).
Anyaman Janur: Simbol Dosa dan Pengampunan Anyaman janur yang rumit mencerminkan kesalahan manusia yang berlapis. Namun ketika ketupat dibelah, tampak isi putih bersih simbol kesucian setelah taubat dan saling memaafkan di hari kemenangan.
Beras: Lambang Kemakmuran
Isi ketupat berupa beras menjadi perlambang kesejahteraan. Filosofinya menegaskan bahwa kemakmuran sejati hanya dapat tercapai jika manusia memiliki hati yang bersih dan akhlak yang luhur.
Kupat dan Lepet: Nilai Kejujuran dan Persaudaraan
Dalam bahasa Jawa, “kupat” berarti ngaku lepat (mengakui kesalahan), sedangkan “lepet” bermakna silep kang rapet (menyimpan rapat kesalahan yang telah dimaafkan).
Nilai ini mengajarkan pentingnya keikhlasan dalam memaafkan tanpa mengungkit luka lama, sekaligus mempererat tali silaturahmi.
Menurut Gus Afan, ketupat bukan sekadar hidangan, melainkan laku spiritual yang mengajarkan perjalanan manusia menuju kesempurnaan melalui penyucian diri, pengendalian nafsu, serta keikhlasan hati.
“Tradisi ketupat adalah cermin keindahan Islam yang tidak menolak budaya, tetapi merangkulnya dengan makna. Di dalamnya tersimpan doa agar manusia hidup damai, rukun, dan penuh berkah,” ungkapnya.
Di tengah arus modernisasi, menjaga tradisi seperti ketupat menjadi bagian penting dalam merawat jati diri bangsa. Lebih dari sekadar simbol Lebaran, ketupat adalah pengikat harmoni antara manusia, budaya, dan Sang Pencipta warisan luhur yang terus hidup dan relevan sepanjang zaman.
( MBS )
