“Pantai Dibuka, Keselamatan Dipertanyakan: Pemda Malaka Dinilai Terburu-buru Buka Kembali Abudenok: Jangan terburu-buru buka wisata, kalau nyawa pengunjung belum benar-benar dilindungi.”

IMG-20260321-WA0021
Spread the love

“Pantai Dibuka, Keselamatan Dipertanyakan: Pemda Malaka Dinilai Terburu-buru Buka Kembali Abudenok:

Jangan terburu-buru buka wisata,
kalau nyawa pengunjung belum benar-benar dilindungi.”

LibasMalaka.com|Malaka, NTT–Keputusan Pemerintah Kabupaten Malaka melalui Dinas Pariwisata untuk membuka kembali destinasi Pantai Cemara Abudenok menuai sorotan keras dari aktivis dan masyarakat setempat. Pembukaan kembali yang tertuang dalam surat edaran resmi tersebut dinilai terlalu terburu-buru, tanpa memastikan kesiapan sistem keselamatan bagi pengunjung.

Langkah ini justru memunculkan pertanyaan publik yang belum terjawab hingga saat ini:
apakah aspek keselamatan sudah benar-benar dipenuhi, atau hanya sekadar formalitas untuk membuka kembali kawasan wisata?

Keselamatan Masih Jadi Tanda Tanya Besar

Sejumlah aktivis pariwisata Malaka menilai bahwa pembukaan kembali Pantai Abudenok seharusnya didahului dengan pemenuhan standar keselamatan yang jelas dan terukur, bukan sekadar pernyataan administratif dalam surat edaran.

Pertanyaan-pertanyaan mendasar pun mencuat:

Apakah sudah tersedia penjaga pantai (lifeguard) yang terlatih?

Apakah sudah disiapkan alat pelampung dan peralatan penyelamatan darurat?

Apakah sudah tersedia perahu karet untuk evakuasi cepat?

Apakah sudah dipasang rambu-rambu larangan dan peringatan bahaya yang jelas?

Apakah sudah ada pos pemantau keselamatan di kawasan pantai?

Hingga kini, publik belum mendapatkan jawaban konkret di lapangan.

Jangan Ulangi Kesalahan yang Sama

Pembukaan kembali ini terjadi di tengah ingatan masyarakat yang masih kuat terhadap insiden sebelumnya di lokasi yang sama. Karena itu, keputusan ini dinilai tidak sensitif terhadap situasi dan belum menunjukkan evaluasi menyeluruh.

“Jangan hanya fokus membuka kembali pariwisata, tetapi mengabaikan keselamatan pengunjung,” tegas salah satu aktivis pariwisata Malaka.

Menurutnya, jika standar keselamatan belum terpenuhi, maka pembukaan kembali justru berpotensi mengulang risiko yang sama.

Pariwisata Bukan Ajang Pencitraan

Kritik juga diarahkan pada pola pengelolaan yang dinilai lebih menonjolkan pencitraan dibanding kesiapan teknis di lapangan. Pembukaan destinasi wisata tidak boleh hanya berorientasi pada ramainya pengunjung dan potensi pendapatan daerah, tetapi harus diimbangi dengan perlindungan maksimal terhadap keselamatan manusia.

“Jangan jadikan pantai sebagai tempat mencari keuntungan dari pengunjung, sementara keselamatan mereka diabaikan,” ujar masyarakat setempat.

Desakan Evaluasi Menyeluruh

Aktivis dan masyarakat mendesak Pemerintah Daerah Malaka serta Dinas Pariwisata untuk:

1. Menunda pembukaan penuh jika standar keselamatan belum terpenuhi.

2. Menyediakan penjaga pantai profesional yang siaga setiap saat.

3. Melengkapi alat keselamatan, termasuk pelampung, perahu karet, dan peralatan evakuasi.

4. Memasang rambu peringatan bahaya secara jelas di titik-titik rawan.

5. Mendirikan pos pemantau keselamatan di kawasan pantai.

6. Melakukan audit keselamatan terbuka agar publik mengetahui kesiapan sebenarnya.

Keselamatan Adalah Harga Mati

Pantai Cemara Abudenok adalah aset daerah yang harus dikelola dengan tanggung jawab, bukan sekadar dibuka untuk menunjukkan eksistensi.

Pariwisata yang baik bukan hanya ramai dikunjungi, tetapi mampu menjamin keselamatan setiap orang yang datang.

Jika keselamatan masih menjadi tanda tanya, maka keputusan membuka kembali pantai ini patut dipertimbangkan ulang.

—––
Penulis: Andry Bria
Redaksi: LibasMalaka.com – Suara Rakyat, Fakta & Integritas