Majelis Tholabul Ilmi, “Menghidupkan Hati, Menjemput Nasihat Ilahi” di Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin
WRINGINANOM, GRESIK – Cahaya keilmuan dan getaran ruhani menyelimuti pelaksanaan Majelis Tholabul Ilmi 2026 yang diselenggarakan pada Sabtu, 17 Januari 2026, di lingkungan Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik.
Majelis ini tidak sekadar menjadi forum pengajian, melainkan ruang muhasabah mendalam bagi para penuntut ilmu untuk menata kembali hati, menundukkan ego, dan memperbarui ikrar penghambaan kepada Allah SWT.
Sejak awal majelis, suasana khidmat terasa kuat. Lantunan sholawat, dzikir, dan doa mengiringi setiap rangkaian acara, menghadirkan ketenangan yang menembus relung jiwa. Para jamaah seolah diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, untuk mendengar suara hati dan menimbang kembali sejauh mana nasihat Ilahi telah benar-benar hidup dalam diri.
Pesan utama majelis terbingkai dalam sebuah hikmah yang sarat makna:
orang yang tidur masih bisa dibangunkan, orang yang lalai masih bisa diingatkan, namun orang yang menolak nasihat dan peringatan, hakikatnya serupa dengan orang yang mati.
Ungkapan ini menegaskan bahwa hidup dan matinya manusia bukan semata soal jasad, melainkan keadaan hati. Sebab hanya hati yang hidup, tunduk, dan kembali (inabah) kepada Allah SWT yang mampu mengambil manfaat dari mau’izhah dan peringatan.
Dalam uraian rohaniah yang disampaikan, dijelaskan bahwa penyebab utama seseorang sulit menerima nasihat bukanlah karena kurangnya ilmu atau lemahnya dalil, tetapi karena hati yang tertutup oleh kesombongan, hawa nafsu, dan rasa merasa paling benar.
Ketika hati telah mengeras, nasihat yang paling lembut sekalipun tak lagi menembus, sebagaimana hujan yang jatuh di atas batu.
Majelis ini dipimpin oleh Gus Ahmad Choirul atau yang akrab disapa Gus Irul, selaku Ketua Yayasan Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin, bersama Abuya Ahmad Yani Iliyin, mursyid dan pembimbing ruhani yang dikenal luas dengan keteguhan sanad keilmuan, kedalaman spiritual, serta keteladanan akhlaknya.
Dalam setiap nasihatnya, Abuya menekankan pentingnya tazkiyatun nafs—penyucian jiwa—sebagai kunci utama hidupnya hati dan terbukanya pintu hidayah.
“Nasihat bukan untuk memenangkan perdebatan, melainkan untuk menghidupkan kesadaran. Dan kesadaran hanya tumbuh pada hati yang tunduk,” demikian pesan nilai yang mengalir kuat dan menyentuh kalbu para jamaah.
Hadir pula memberikan dukungan penuh Gus Choirul Anwar, Ketua Yayasan, yang selama ini setia mendampingi perjalanan dakwah, pendidikan, dan pembinaan umat di bawah naungan PP Internasional Al-Illiyin. Sinergi antara kepemimpinan ruhani dan kelembagaan ini menjadi fondasi kokoh terselenggaranya majelis-majelis ilmu secara istiqamah dan berkesinambungan.
Para jamaah yang hadir datang dari beragam latar belakang, usia, dan daerah, namun dipersatukan oleh satu niat: menjadi penuntut ilmu yang tidak hanya tajam akalnya, tetapi juga lembut dan hidup hatinya. Tangisan keinsafan, sujud panjang dalam doa, serta lantunan sholawat Nabi ﷺ menjadi pemandangan yang mempertegas kuatnya atmosfer spiritual majelis.
Di penghujung acara, panitia menyampaikan rasa syukur atas kelancaran Majelis Tholabul Ilmi 2026, disertai ungkapan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat. Dokumentasi kegiatan turut dilampirkan sebagai pengingat bahwa ilmu, nasihat, dan peringatan adalah amanah yang harus terus dijaga, dihidupkan, dan diamalkan.
Majelis ini sekaligus menjadi penegasan bahwa di tengah keras dan bisingnya kehidupan modern, manusia sejatinya paling membutuhkan nasihat—bukan sekadar untuk didengar oleh telinga, tetapi untuk diresapi oleh hati yang hidup, tunduk, dan senantiasa kembali kepada Allah SWT.
(MBS)
