Prosesi Larung Tumpeng Meriahkan Tradisi Labuhan Sarangan

IMG-20260116-WA0322
Spread the love

Magetan – Tradisi tahunan Labuhan Sarangan kembali digelar meriah di kawasan wisata Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan, pada Kamis (16/1/2025). Ritual adat yang sarat nilai budaya ini kembali menyedot perhatian wisatawan dan masyarakat lokal, sekaligus menjadi momentum penting dalam pelestarian warisan budaya daerah.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, rangkaian kegiatan Labuhan Sarangan diawali dengan pertunjukan tari tradisional, prosesi kirab, larung tumpeng ke Telaga Sarangan, serta dilanjutkan dengan makan bersama masyarakat setempat. Nuansa kebersamaan dan kekhidmatan terasa kuat dalam setiap tahapan prosesi adat tersebut.

Salah satu warga asli Sarangan, Maryo, mengungkapkan bahwa perayaan Labuhan Sarangan tahun ini terasa lebih semarak dibandingkan sebelumnya.

“Dari pertunjukan, sajian makanan, hingga jumlah wisatawan, semuanya terlihat lebih meriah dan antusias di tahun ini,” ujarnya.

Kemeriahan Labuhan Sarangan tahun ini juga semakin mengukuhkan posisinya sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) asal Kabupaten Magetan.

Pengakuan tersebut diperoleh pada tahun 2025 dalam domain adat istiadat, ritus, dan perayaan tradisional, sebagai bentuk apresiasi terhadap konsistensi masyarakat Sarangan dalam menjaga tradisi leluhur.

Dalam sambutannya, Bupati Magetan, Nanik Sumantri, menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Magetan untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak utama perekonomian daerah.

“Labuhan Sarangan menjadi momentum penting untuk mempromosikan Magetan sebagai destinasi wisata unggul yang berkarakter, berbudaya, dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Menurutnya, pelestarian budaya lokal yang dipadukan dengan pengembangan pariwisata diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus memperkuat daya tarik Magetan di tingkat regional maupun nasional.

Dengan antusiasme wisatawan yang terus meningkat, Labuhan Sarangan tidak hanya menjadi ritual adat semata, tetapi juga simbol harmonisasi antara budaya, pariwisata, dan pembangunan daerah.

(Yeko)