Menautkan Dzikir, Sholawat, dan Warisan Ulama: Penutupan Istighotsah Sentral Jam’iyyah Sholawat Ibrohimiyah di Al-Illiyin Gresik

20251228_100805
Spread the love

GRESIK, – Malam Sabtu, 27 Desember 2025, diproyeksikan menjadi puncak perjumpaan ruhani bagi ribuan jamaah yang akan memadati kawasan Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin, Dusun Sumberwaru, Desa Sumberwaru, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Pada malam penuh makna tersebut, Jam’iyyah Sholawat Ibrohimiyah menggelar penutupan Majelis Pengajian Rutin Istighotsah Sentral, sebuah agenda akbar yang menjadi penanda kuatnya denyut spiritual umat di penghujung tahun.

Kegiatan yang dimulai sejak pukul 19.00 WIB atau ba’da Isya itu tidak sekadar menjadi agenda rutin penutupan majelis, melainkan dirangkai dengan peringatan haul dua tokoh besar Nusantara, yakni KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau yang masyhur dikenal sebagai Guru Sekumpul, serta KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kedua figur tersebut dipandang sebagai simbol keteladanan ulama yang memadukan kedalaman spiritual, keluasan ilmu, dan komitmen kebangsaan.

Penutupan Istighotsah Sentral ini akan dipimpin langsung oleh Abuya Ahmad Yani Al-Illiyin, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin sekaligus Mursyid Tunggal Jam’iyyah Sholawat Ibrohimiyah.

Dalam kiprahnya, Abuya Ahmad Yani dikenal luas sebagai ulama yang konsisten menghidupkan tradisi sholawat, dzikir, dan penguatan batin umat, dengan pendekatan dakwah yang sejuk, inklusif, dan berakar kuat pada sanad keilmuan para masyayikh.

Di bawah asuhan Abuya Ahmad Yani Al-Illiyin, Ponpes Internasional Al-Illiyin tumbuh menjadi salah satu pusat majelis dzikir dan sholawat yang aktif di wilayah Jawa Timur.

Berbagai agenda keagamaan seperti istighotsah rutin, pengajian kitab, peringatan Maulid Nabi, hingga haul para ulama besar secara konsisten digelar, menjadikan pesantren ini sebagai ruang bertemunya santri, jamaah, dan masyarakat umum dalam suasana religius yang khidmat.

Rangkaian penutupan istighotsah sentral ini akan diisi dengan berbagai amalan ibadah, mulai dari Khotmil Qur’an, Sholat Taubat, Sholat Hajat, Dzikir dan Istighotsah, pengajian keilmuan, sholawat bersama, hingga doa bersama.

Seluruh rangkaian tersebut menjadi wasilah spiritual untuk memohon pertolongan Allah SWT, memperbaiki diri, serta memperkuat ikatan persaudaraan di tengah umat.

Lebih dari sekadar ritual, majelis ini juga menghidupkan kembali pemahaman mendalam tentang makna “surga dunia” sebagaimana diajarkan para ulama. Surga dunia dimaknai sebagai majelis dzikir dan ilmu, tempat hati menjadi tenang, rahmat Allah tercurah, dan jiwa manusia dipersiapkan menuju kebahagiaan akhirat.

Nilai ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang menyebut majelis dzikir sebagai taman-taman surga yang dapat dirasakan kenikmatannya sejak di dunia.

Panitia pelaksana menegaskan bahwa kegiatan ini terbuka untuk umum dan dapat diikuti secara langsung maupun daring melalui siaran live YouTube PP Al-Illiyin Channel. Hal tersebut diharapkan mampu menjangkau jamaah yang lebih luas, sekaligus memperkuat syiar Islam dan sholawat di era digital tanpa meninggalkan adab dan kekhusyukan majelis.

Melalui penutupan Istighotsah Sentral Jam’iyyah Sholawat Ibrohimiyah ini, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif umat untuk terus menjaga tradisi dzikir, sholawat, dan cinta kepada para ulama.

Nilai-nilai spiritual, kebangsaan, dan kemanusiaan yang diwariskan oleh Guru Sekumpul dan Gus Dur pun diharapkan tetap hidup, membumi, dan menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
( MBS )