Rutinan Pengaosan Istiqomah THOLABUL ILMI Jam’iyah Sholawat Ibrohimiyah Bersama Abuya Ahmad Yani Iliyin : Menjadikan Pandangan Seindah Mata Lebah
WRINGINANOM – Suasana penuh kedamaian dan keberkahan kembali menyelimuti Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin, yang berlokasi di Desa Sumberwaru, RT 02/RW 03, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, pada malam rutinan Pengaosan Istiqomah Tholabul Ilmi Jam’iyah Sholawat Ibrohimiyah.
Acara yang telah menjadi agenda istiqomah setiap pekan ini dipimpin langsung oleh Abuya Ahmad Yani Illiyin, Mursyid Tunggal Jam’iyah Sholawat Ibrohimiyah sekaligus pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin.
Ratusan jama’ah dan santri tampak khidmat mengikuti rangkaian kegiatan yang dimulai dengan pembacaan sholawat, doa bersama, serta pengajian ilmu yang sarat hikmah dan nilai-nilai kehidupan.
Dalam tausyiahnya, Abuya Ahmad Yani Illiyin menyampaikan pesan mendalam tentang cara pandang seorang mukmin dalam melihat kehidupan dan sesama manusia.
Beliau berpesan agar setiap hamba Allah mampu menjadikan pandangan matanya seperti mata lebah, yang hanya tertuju pada keindahan dan wewangian, bukan pada keburukan.
“Jadikan pandangan mata ini seperti mata lebah — yang hanya melihat keindahan dan kebaikan orang lain. Bukan seperti lalat yang justru mencari kotoran dan keburukan,” tutur Abuya Ahmad Yani dengan nada lembut namun penuh makna.
Dalam kesempatan itu, beliau juga mengutip teladan dari Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, yang senantiasa menyeru umat untuk selalu menebar kebaikan dan menjauhi permusuhan. Abuya menegaskan bahwa pandangan positif adalah kunci hati yang bersih dan sumber kedamaian hidup.

Selain menanamkan nilai-nilai akhlak, Abuya juga mengingatkan pentingnya berbakti kepada orang tua serta menjaga adab dan hormat terhadap guru. Menurut beliau, keberkahan ilmu akan datang jika seseorang tidak hanya pandai mencari pengetahuan, tetapi juga mengamalkan dan menghormati sumbernya.
“Orang tua adalah pintu ridha Allah. Siapa yang ingin hidupnya berkah, jangan pernah berhenti berbakti pada ayah dan ibu,” pesan beliau.
Tak lupa, Abuya Ahmad Yani menekankan pentingnya pendidikan pondok pesantren sebagai tempat pembentukan karakter santri dan penjaga nilai-nilai keislaman di tengah arus modernisasi. Santri, menurut beliau, bukan hanya belajar kitab, tapi juga menata hati dan menghidupkan ruh perjuangan Islam.
Menjelang penutupan acara, suasana haru menyelimuti jama’ah ketika Abuya mengajak seluruh hadirin untuk bersama-sama menyanyikan lagu berjudul “Ayah” dan “Ibu yang Keramat.” Lantunan lagu penuh makna itu membuat banyak jama’ah meneteskan air mata, mengingat jasa dan kasih sayang kedua orang tua yang tak ternilai.
Sebagai penutup, acara ditutup dengan doa penuh khidmat yang dipimpin oleh KH. Imam Bukhori dari Pondok Pesantren Yasinat, Jember.
Doa bersama itu menjadi penanda berakhirnya pengajian malam itu, dengan harapan semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan dan istiqomah kepada seluruh jama’ah dalam menuntut ilmu dan berbuat kebaikan.
Kegiatan rutinan ini tidak hanya menjadi ajang menimba ilmu agama, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi, menumbuhkan cinta kepada Rasulullah, serta memperkokoh semangat keislaman di tengah masyarakat. Sebagaimana pesan Abuya di penghujung ceramahnya,
“Siapa yang menjaga istiqomah dalam tholabul ilmi dan bersholawat, maka Allah akan menjaga hidupnya dengan rahmat dan cahaya.”
(MBS)
