Wage’an Penuh Cahaya: Menjemput Berkah, Istiqomah Dan Bakti Di Tengah Ujian Bersama Abuya Ahmad Yani Illiyin

20251024_074946
Spread the love

GRESIK– Malam Kamis Wage (23/10/2025) di Dusun Nurin, Desa Gadingwatu, Kecamatan Menganti, tampak berbeda dari biasanya. Suasana hening kampung berubah menjadi syahdu ketika lantunan sholawat menggema, menembus malam dan menyapa hati setiap yang hadir.

Inilah Majelis Rutinan Wage’an yang diselenggarakan oleh Jam’iyyah Sholawat Ibrohimiyah, sebuah majelis dzikir dan pengajian yang telah menjadi bagian dari denyut spiritual masyarakat Gresik dan sekitarnya.

Dipimpin langsung oleh Abuya Ahmad Yani Illiyin, Mursyid tunggal Jam’iyyah Sholawat Ibrohimiyah sekaligus pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin di Wringinanom, majelis ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan perjumpaan hati dalam mencari ridha Ilahi. Ratusan jamaah dari berbagai daerah datang dengan niat tulus, berharap setitik cahaya hikmah dari tausiyah sang mursyid.

Tema pengajian malam itu begitu dalam maknanya: “Setiap Kehidupan Manusia Selalu dengan Ujian, Baik Besar Maupun Kecil.” Abuya membuka tausiyah dengan lembut, namun setiap kata yang terucap seolah mengetuk pintu hati para hadirin.

“Hidup ini memang penuh ujian, tapi di balik setiap cobaan selalu tersimpan kasih sayang Allah. Karena dengan ujianlah, manusia belajar untuk sabar, belajar untuk tawakal, dan belajar untuk bersyukur,” tutur Abuya dengan suara teduh yang memantulkan ketenangan.

Beliau juga menekankan pentingnya bakti kepada kedua orang tua, karena ridha mereka adalah kunci dari segala keberkahan hidup.
“Jangan pernah lelah berdoa untuk orang tua. Selama napas masih ada, jadikan doa sebagai bentuk cinta dan bakti kita kepada mereka,” pesan Abuya disambut anggukan haru dari jamaah.

Di sela-sela ceramahnya, Abuya juga mengingatkan agar umat Islam memperbanyak dzikir dan sholawat. Menurut beliau, dzikir bukan hanya ibadah lisan, tetapi juga cara membersihkan hati dari kesombongan dan kegelapan batin.

“Dzikir dan sholawat adalah cahaya. Bila hati gelap, niscaya hidup terasa berat. Tapi jika hati diterangi dzikir, maka setiap langkah akan dimudahkan oleh Allah,” ucapnya penuh makna.

Majelis malam itu terasa sangat khusyuk. Wajah para jamaah tampak teduh diterpa cahaya lampu temaram dan gema sholawat yang terus mengalun. Seorang jamaah, asal Wringinanom, mengaku selalu merasakan kedamaian setiap kali hadir.

“Setiap datang ke majelis ini, hati saya terasa tenang. Seolah semua beban hidup perlahan hilang diganti dengan rasa syukur,” tuturnya dengan sorot mata yang memberikan arti sangat bersyukur bahagia.

Tuan rumah acara, H. A. Supri, tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya karena kediamannya dipenuhi jamaah pecinta sholawat.

“Alhamdulillah, malam ini rumah kami penuh berkah. Semoga apa yang kami lakukan menjadi jalan kebaikan untuk keluarga dan masyarakat sekitar,” ucapnya dengan senyum tulus, bersyukur atas kesuksesan acara yang di hadiri oleh guru mursyid beliau yang di cintai dan dibanggakan sosok seperti Abuya Ahmad Yani Illiyin dengan rasa terharu campur bahagia terlihat dari sorot matanya.

Menjelang akhir acara, Gus Choirul Anwar atau yang akrab disapa Gus Irul — pemilik Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin — memimpin doa penutup dengan penuh kekhusyukan.

“Ya Allah, kuatkan hati kami untuk istiqomah, lapangkan dada kami dalam menghadapi ujian, dan jadikan kami hamba-Mu yang selalu bersyukur,” lantun Gus Irul diikuti serempak oleh jamaah dengan ucapan “Aamiin” yang menggema.

Malam itu berakhir dengan saling bersalaman, senyum keikhlasan, dan hidangan sederhana yang dibagikan penuh kehangatan. Tak ada kemewahan, namun ada kedamaian yang sulit dilukiskan.

Rutinan Wage’an Jam’iyyah Sholawat Ibrohimiyah bukan hanya tradisi keagamaan, melainkan perjalanan ruhani yang menuntun umat untuk tetap teguh dalam iman, terus memperbaiki diri, dan tak lelah menabur kebaikan. Di tengah gelombang ujian hidup, majelis ini menjadi lentera yang mengingatkan: bahwa dengan dzikir, doa, dan cinta kepada Rasulullah SWT, hidup akan selalu memiliki arah — menuju cahaya dan keberkahan Ilahi.
( M B S )