PENTINGNYA MEMANTAU TUMBUH KEMBANG ANAK BERDASARKAN UMUR

Oleh: dr. Ni Putu Inna Ariani, S.Ked
dr. Pukesmas Uabau kecamatan Laenmanen Kabupaten Malaka Provinsi NTT

Sabtu (9/11/19)
Anak akan selalu tumbuh dan berkembang sejak di dalam kandungan hingga masa remaja. Lima tahun pertama kehidupan seorang anak merupakan jendela kesempatan bagi orang tua atau keluarganya dalam meletakkan dasar  kesehatan fisik dan mental, kemampuan penalaran, pengembangan kepribadian, kemandirian, serta adaptasi terhadap sosial dan budaya. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik yang dapat diukur dengan satuan seperti panjang badan dan tinggi badan, sedangkan perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks seperti kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian. Orang tua berperan penting untuk memantau dan menstimulasinya sehingga tumbuh kembang anak sesuai umurnya dapat dicapai. Cara mendeteksi dan menstimulasi tumbuh kembang anak saat ini sangat mudah ditemui, seperti menggunakan buku merah muda (buku kesehatan ibu dan anak) ataupun aplikasi yang diunduh di app store atau play store.
Jenis deteksi tumbuh kembang yang harus dilakukan yaitu deteksi dini penyimpangan pertumbuhan berupa mengukur berat badan, tinggi atau panjang badan, dan lingkar kepala. Deteksi dini penyimpangan perkembangan menggunakan kuisioner pra skrining perkembangan (KPSP), tes daya dengar (TDD), dan tes daya lihat (TDL). Deteksi dini penyimpangan mental emosional menggunakan kuesioner masalah perilaku emosional (KMPE), modified checklist for autism in toddlers (M-CHAT), dan kuisioner gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas (GPPH). Setiap pemeriksaan disesuaikan dengan jadwal dan jenis skrining sesuai umur anak. Khusus untuk deteksi dini penyimpangan mental dan emosional hanya dilakukan atas indikasi. Adapun beberapa gangguan tumbuh kembang anak yang sering ditemui yaitu gangguan bicara dan bahasa, cerebral palsy, sindrom down, perawakan pendek, gangguan autism, retardasi mental, dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH).

Bila penyimpangan terlambat diketahui atau terlambat dikoreksi, maka intervensinya akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak selanjutnya. Orang tua harus melakukan stimulasi dan intervensi terhadap keterlambatan yang ditemui 3-4 jam dalam sehari selama 2 minggu dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, bervariasi dan sambil bermain agar anak tidak bosan. Setelah 2 minggu orang tua harus kontrol ke Puskesmas, dan jika memerlukan penanganan lebih lanjut maka akan dilakukan rujukan oleh Puskesmas ke Rumah Sakit yang memiliki klinik tumbuh kembang anak yang didukung oleh tim dokter spesialis anak, kesehatan jiwa, kesehatan mata, THT, rehabilitasi medik, ahli terapi (fisioterapi, terapis bicara), ahli gizi, dan psikolog.(red)