Majelis Istighotsah Sentral Jam’iyah Sholawat Ibrohimiyah, Maulid Akbar & Haul Pendiri NKRI PW Jatma Aswaja Prov Jawa Timur
GRESIK — Suasana penuh khidmat dan nuansa religius menyelimuti Pondok Pesantren Internasional Al-Iliyin, Dusun Sumberwaru RT 02/RW 03, Desa Sumberwaru, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Majelis Istighotsah Sentral Jam’iyah Sholawat Ibrohimiyah kembali digelar bersamaan dengan peringatan Maulidurrasul Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Sabtu malam, 29/ 08/2026.
Kegiatan yang menjadi agenda rutin bulanan tersebut dipimpin langsung oleh Abuya Ahmad Yani Iliyin, Mursyid Tunggal Jam’iyah Sholawat Ibrohimiyah sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Internasional Al-Iliyin. Rangkaian kegiatan diisi dengan khotmil Qur’an, sholat taubat, sholat hajat, dzikir dan istighotsah, pengajian, sholawat bersama serta doa bersama.
Dalam suasana penuh kecintaan kepada Rasulullah SWT, Abuya Ahmad Yani Iliyin mengajak seluruh jamaah menjadikan Maulid Nabi bukan sekadar seremonial, tetapi sebagai momentum untuk menghidupkan kembali kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad SWT sekaligus memperkuat persaudaraan sesama manusia.
“Alhamdulillahirabbil ‘alamin, malam ini kita semua mengadakan acara Maulid Rasul Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bertepatan dengan kegiatan rutin setiap satu bulan sekali. Semoga kita semua diberikan keberkahan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tutur Abuya Ahmad Yani Iliyin.

Maulid Nabi sebagai Jalan Menebar Cinta
Dalam tausiyahnya, Abuya Ahmad Yani menekankan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SWT harus melahirkan energi positif dalam kehidupan sosial.
Menurutnya, Islam mengajarkan umatnya untuk membangun hubungan yang baik, tidak mudah membenci, serta mampu hidup berdampingan dengan siapa pun.
Hal tersebut juga tercermin dari keberagaman jamaah yang hadir dalam Istighotsah Sentral. Selain umat Islam, kegiatan tersebut turut dihadiri masyarakat dari berbagai latar belakang keyakinan.
Abuya menyampaikan bahwa perbedaan agama, suku maupun etnis tidak semestinya menjadi penghalang untuk membangun persaudaraan kemanusiaan.
“Kita hidup di bumi Allah. Kita hidup bersama. Kita bermitra dengan siapa pun, tidak memandang ras, tidak memandang suku dan tidak memandang apa pun.”
Pesan tersebut menjadi salah satu ruh utama dalam majelis. Kecintaan kepada Rasulullah SWT, menurut Abuya, semestinya menghadirkan akhlak yang penuh kasih sayang, bukan permusuhan.
Ia kemudian mengibaratkan sikap menghadapi keburukan dengan filosofi minyak wangi.
“Kalau kita menuangkan minyak wangi, lalu kita sebarkan, baunya semakin harum.
Tetapi kalau kita memegang sesuatu yang kotor kemudian kita sebarkan, maka yang ikut terkena adalah kita sendiri,” ungkapnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan kepada jamaah agar tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Sebaliknya, menghadapi fitnah dan berbagai ujian kehidupan dengan kesabaran, doa dan akhlak yang baik.
Menghadapi Fitnah dengan Sabar
Di tengah berbagai dinamika kehidupan, Abuya juga mengingatkan jamaah agar tidak mudah terpancing oleh fitnah maupun perkataan yang dapat memecah persaudaraan.
Menurutnya, semakin besar sebuah perjuangan, semakin besar pula ujian yang mungkin dihadapi. Karena itu, kesabaran menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju kemuliaan dan keberkahan.
“Menghadapi apa pun, sabar. Insyaallah nanti kita akan mendapatkan kemuliaan, kebahagiaan dan kesuksesan.”
Pesan tersebut selaras dengan semangat para ulama terdahulu yang mengajarkan pentingnya menjaga hati, memperbanyak doa serta tidak menjadikan kebencian orang lain sebagai alasan untuk membalas dengan kebencian.
Kyai Wahab Jazuli Rasulullah SWT adalah Rahmat bagi Semesta.
Sementara itu, Kyai Haji Wahab Jazuli dari Bangkalan, Madura, yang turut memberikan tausiyah, mengajak jamaah untuk semakin memahami kedudukan Rasulullah Muhammad SWT sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam.
Ia mengingatkan bahwa kelahiran Nabi Muhammad SWT merupakan anugerah besar bagi umat manusia.
Karena itu, momentum Maulid hendaknya diisi dengan memperbanyak sholawat, mengenang perjuangan Rasulullah SWT dan meneladani akhlaknya.
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah rahmatan lil ‘alamin. Mudah-mudahan semua yang hadir mendapatkan keberkahan dan syafaat Rasulullah SWT.”
Kyai Wahab juga menyampaikan bahwa majelis Maulid dan sholawat dapat menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan serta menghadirkan kedamaian.
Bagi jamaah yang hadir, lantunan sholawat tidak hanya menjadi ungkapan lisan, tetapi juga diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ di dalam hati.
Semangat Persatuan dalam Keberagaman
Menariknya, Istighotsah Sentral Jam’iyah Sholawat Ibrohimiyah juga menjadi ruang perjumpaan masyarakat dari berbagai daerah dan latar belakang.
Jamaah datang dari berbagai wilayah, di antaranya Jakarta, Banyuwangi, Madiun, Nganjuk, Jombang, Surabaya, Mojokerto, Mojosari, Jember, Pacitan hingga Bangkalan.
Sejumlah tokoh, ulama, habaib dan undangan juga hadir dalam kegiatan tersebut.
Di antaranya keluarga dari Malaysia, Padang Sumatera Barat, keluarga besar Bani Mustofa Nganjuk serta sejumlah tokoh dan pengurus Jam’iyah Sholawat Ibrohimiyah di berbagai daerah.
Abuya Ahmad Yani juga menyampaikan bahwa keberagaman yang hadir dalam majelis merupakan gambaran bahwa persaudaraan kemanusiaan dapat dibangun melalui nilai cinta, penghormatan dan kedamaian.
Menurutnya, semangat tersebut memiliki relevansi dengan spirit Piagam Madinah, yang dalam sejarah Nabi Muhammad SWT menjadi salah satu contoh pengaturan kehidupan bersama masyarakat yang terdiri atas kelompok dan latar belakang yang beragam.
Air Doa dan Simbol Keberkahan
Dalam rangkaian Maulid, jamaah juga diajak menempatkan air di hadapan majelis untuk kemudian didoakan bersama.
Abuya Ahmad Yani menjelaskan hal tersebut sebagai bagian dari ikhtiar spiritual dan simbol keberkahan. Jamaah diminta meminum air tersebut dengan memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ia menekankan bahwa segala kesembuhan dan pertolongan pada hakikatnya berasal dari Allah SWT.
Karena itu, ikhtiar spiritual hendaknya tetap ditempatkan sebagai bentuk doa dan pengharapan kepada Allah, bukan sebagai pengganti ikhtiar medis maupun usaha manusia.
“Semoga keberkahan Maulid ini menjadi wasilah doa. Kita memohon kepada Allah agar diberikan kesehatan, keselamatan dan keberkahan.”
Memperkuat Ukhuwah dan Cinta kepada Rasulullah SWT Kegiatan semakin khidmat ketika jamaah bersama-sama melantunkan sholawat dan dzikir. Suasana majelis dipenuhi ungkapan cinta kepada Rasulullah SWT.
Bagi Jam’iyah Sholawat Ibrohimiyah, Istighotsah Sentral bukan hanya forum dzikir dan doa, tetapi juga menjadi sarana mempertemukan masyarakat dalam suasana penuh persaudaraan.
Pesan utama yang disampaikan para ulama malam itu sederhana namun mendalam: cinta kepada Rasulullah SWT harus tercermin dalam akhlak, kesabaran, persaudaraan dan kepedulian kepada sesama.
Dengan semangat tersebut, Maulidurrasul di Pondok Pesantren Internasional Al-Iliyin diharapkan menjadi momentum untuk terus memperbanyak sholawat, memperbaiki akhlak, menjaga persatuan dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keberkahan kepada seluruh jamaah, keluarga, para ulama, habaib dan seluruh saudara yang hadir. Semoga kecintaan kita kepada Baginda Nabi Muhammad SWT menjadi jalan turunnya rahmat, keselamatan dan keberkahan dalam kehidupan kita. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.”
( MBS )
