21 Agustus 2026

Gus Sentot Soroti Isu Politik dan “Pesanan Pusat” Marwah Organisasi Jangan Dipertaruhkan, Jelang Muhtamar K-35 Di Tambakberas Jombang

IMG-20260821-WA0136
Spread the love

TAMBAKBERASJOMBANG — Pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, tidak hanya menjadi perhatian warga Nahdliyin, tetapi juga menyedot perhatian publik secara lebih luas. Di tengah persiapan agenda besar tersebut, sejumlah isu mulai menjadi perbincangan, mulai dari dinamika politik organisasi, kepentingan kandidat, hingga kekhawatiran munculnya intervensi atau “pesanan dari pusat” dalam proses pengambilan keputusan Muktamar.
Jum’at, 21/08/2026.

Di tengah situasi tersebut, Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Jombang, H. M. Syarif Hidayatullah, S.T., M.M.T., yang akrab disapa Gus Sentot atau Gus’e, menyampaikan pesan agar seluruh pihak tidak kehilangan orientasi utama Muktamar.

Menurutnya, Muktamar harus benar-benar dikembalikan pada semangat khidmah, musyawarah, persaudaraan, dan kemaslahatan umat. Jangan sampai forum tertinggi organisasi justru dibayangi kepentingan politik praktis maupun kepentingan kelompok tertentu. Gus Sentot menyampaikan harapan tersebut saat menanggapi berbagai isu yang berkembang menjelang pelaksanaan Muktamar NU ke-35.

“Saya berharap kegiatan utama ini, sebagaimana yang digaungkan, menjadi Muktamar yang riang dan bahagia. Masyarakat juga bisa melihat langsung bahwa kegiatan utama ini berjalan dengan baik,” ujar Gus Sentot.

Ia kemudian menyinggung isu mengenai calon dan kemungkinan adanya “pesanan dari pusat”. Gus Sentot menegaskan bahwa dirinya sebagai pemerhati sekaligus bagian dari masyarakat Jombang berharap isu semacam itu tidak sampai terjadi.

“Terkait masalah calon atau mungkin pesanan dari pusat, kami berharap sebagai orang pemerhati, semoga hal seperti itu tidak terjadi. Mari kita jaga marwah organisasi,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena Muktamar NU bukan sekadar forum pergantian atau penetapan kepemimpinan organisasi. Muktamar merupakan ruang musyawarah para ulama dan kader untuk menentukan arah perjalanan organisasi dalam menghadapi persoalan umat, bangsa, dan perkembangan zaman. Karena itu, menurut Gus Sentot, seluruh proses harus berlangsung secara bermartabat, terbuka dalam koridor aturan organisasi, serta memberikan ruang yang sehat bagi para peserta Muktamar untuk menentukan pilihan.

*Jangan Sampai Muktamar Dibajak Kepentingan Politik*

Dinamika politik dalam sebuah organisasi besar tentu bukan sesuatu yang sepenuhnya dapat dihindari. NU memiliki sejarah panjang dalam perjalanan sosial dan kebangsaan Indonesia. Namun, Gus Sentot mengingatkan agar kepentingan politik praktis tidak sampai menggeser substansi utama Muktamar.

Jika keputusan strategis organisasi terlalu kuat dipengaruhi kepentingan eksternal, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hasil Muktamar, melainkan juga kepercayaan warga NU.

Apalagi, Tambakberas merupakan salah satu pusat penting tradisi keilmuan Islam dan sejarah Nahdlatul Ulama. Menjadikan Jombang sebagai lokasi Muktamar seharusnya menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa tradisi musyawarah ulama tetap memiliki kekuatan dalam menghadapi berbagai dinamika.

“Mari kita jaga marwah organisasi. Semoga acara ini berlangsung lancar, sukses dan membawa keberkahan bagi kita semua,” pesan Gus Sentot.

Pernyataan tersebut sekaligus dapat dibaca sebagai ajakan agar seluruh pihak menahan diri dari praktik-praktik yang berpotensi mencederai proses demokrasi organisasi.

*Muktamar Harus Menjadi Ruang Musyawarah, Bukan Arena Transaksi*

Muktamar NU ke-35 juga diharapkan tidak berubah menjadi arena transaksi kepentingan. Setiap kandidat maupun peserta memiliki hak untuk menyampaikan gagasan dan menawarkan visi terbaik bagi masa depan organisasi.

Namun, keputusan akhir harus tetap berpijak pada mekanisme organisasi, pertimbangan ulama, kepentingan umat, serta nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi Nahdlatul Ulama. Dalam konteks inilah, isu “pesanan pusat” menjadi sesuatu yang harus disikapi secara hati-hati. Isu tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai fakta tanpa bukti, tetapi juga tidak seharusnya diabaikan apabila berkembang luas di tengah publik.

Prinsipnya sederhana, jika proses berjalan bersih, transparan, demokratis, dan sesuai aturan, maka ruang bagi kecurigaan publik akan semakin kecil. Sebaliknya, jika terdapat proses yang tertutup dan sulit dijelaskan kepada peserta maupun publik, maka wajar apabila muncul pertanyaan dan spekulasi.

Gus Sentot, Jombang Harus Menjaga Marwah Muktamar Sebagai wakil rakyat Jombang, Gus Sentot juga menempatkan Muktamar NU sebagai bagian dari tanggung jawab moral masyarakat Jombang.

Menurutnya, pemerintah, DPRD, aparat keamanan, panitia, organisasi kemasyarakatan, pesantren, dan masyarakat harus bersama-sama memastikan seluruh rangkaian Muktamar berjalan aman dan kondusif.
Namun, keamanan bukan berarti membatasi ruang demokrasi.

Pengamanan justru harus memberikan jaminan bahwa seluruh peserta dapat menjalankan hak organisasi dengan aman dan nyaman.

Muktamar yang sukses bukan hanya Muktamar yang berlangsung meriah dan aman secara teknis. Lebih dari itu, Muktamar harus meninggalkan pesan bahwa tradisi musyawarah ulama masih hidup dan mampu menjawab tantangan zaman.

Jombang memiliki kesempatan besar menunjukkan hal tersebut kepada publik nasional.

Ulama dan Umara Harus Bersinergi
Gus Sentot juga melihat Muktamar sebagai momentum memperkuat hubungan antara ulama dan umara.

Pemerintah memiliki tanggung jawab memastikan pelayanan publik, keamanan, infrastruktur, transportasi dan fasilitas pendukung berjalan dengan baik. Sementara ulama dan tokoh agama memiliki peran moral untuk menjaga suasana tetap teduh, sejuk dan penuh persaudaraan.

Sinergi tersebut penting agar Muktamar tidak hanya menjadi agenda internal NU, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat Jombang.

Kehadiran ribuan peserta dan tamu dari berbagai daerah dapat menggerakkan ekonomi masyarakat, mulai dari UMKM, kuliner, transportasi, penginapan hingga sektor ekonomi kreatif.

Namun, seluruh manfaat tersebut harus berjalan beriringan dengan prinsip ketertiban dan penghormatan terhadap masyarakat sekitar.

Jangan Korbankan Marwah Organisasi Demi Kepentingan Sesaat Pada akhirnya, pesan Gus Sentot mengarah pada satu hal penting: jangan sampai kepentingan jangka pendek mengorbankan marwah organisasi yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Muktamar harus menjadi ruang untuk menyatukan, bukan memecah. Menjadi forum mencari solusi, bukan arena mempertajam konflik. Menjadi tempat memperkuat khidmah, bukan sekadar perebutan posisi.
Jika terdapat perbedaan pilihan, maka perbedaan tersebut harus diselesaikan melalui mekanisme organisasi dan tradisi musyawarah yang sehat.

Karena itu, isu mengenai kandidat, kepentingan politik, maupun dugaan “pesanan dari pusat” perlu ditempatkan secara proporsional: tidak boleh menjadi fitnah, tetapi juga tidak boleh menutup ruang kritik dan pengawasan publik.

Masyarakat berhak berharap bahwa Muktamar NU ke-35 di Tambakberas benar-benar menjadi Muktamar yang riang, bahagia, bermartabat dan membawa keberkahan. Sebagaimana pesan Gus Sentot, seluruh pihak harus bersama-sama menjaga marwah Nahdlatul Ulama, marwah Muktamar, sekaligus marwah Jombang sebagai Kota Santri.

Sebab, yang dipertaruhkan bukan hanya siapa yang nantinya memimpin organisasi, tetapi juga kepercayaan jutaan warga NU terhadap proses musyawarah dan masa depan jam’iyah.

( MBS )

About Post Author