16 Agustus 2026

HUT Kemerdekaan RI ke-81: Dari Doa Para Pejuang hingga Tholabul Ilmi, Al-Illiyin Teguhkan Iman dan Cinta kepada Rasulullah SAW

1786853237679
Spread the love

WRINGINANOMGRESIK  — Dalam suasana memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, nuansa religius dan semangat kebangsaan berpadu dalam Majelis Pengajian Rutin Sabtu Malam Minggu di Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin, Dusun Sumberwaru, RT 02/RW 03, Desa Sumberwaru, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Sabtu (15/08/2026) malam.

Majelis Tholabul Ilmi yang berlangsung pada Sabtu, 15 Agustus 2026, mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai, menjadi momentum untuk memperkuat iman, memperdalam ilmu agama, sekaligus menanamkan kesadaran bahwa kemerdekaan dan kehidupan manusia tidak terlepas dari kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Pengajian tersebut dipimpin langsung Abuya Achmad Yani Iliyin, Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin, yang juga dikenal sebagai Mursyid Tunggal sekaligus pendiri Jam’iyyah Sholawat Ibrohimiyah.

Dalam tausiyahnya, Abuya Achmad Yani Iliyin mengajak para santri dan jamaah untuk memahami bahwa manusia boleh memiliki rencana, ikhtiar dan cita-cita, tetapi pada akhirnya Allah SWT mempunyai ketetapan yang jauh lebih sempurna.

“Rencana Allah jauh lebih hebat daripada rencana manusia”.

Pesan tersebut menjadi salah satu inti renungan dalam majelis. Abuya mengingatkan bahwa perjalanan kehidupan sering kali memperlihatkan bagaimana sesuatu yang dianggap mustahil oleh manusia justru dapat terjadi atas kehendak Allah.

Kisah Fir’aun dan Nabi Musa AS menjadi salah satu gambaran tentang kekuatan takdir Allah. Fir’aun berusaha mencegah kelahiran dan keselamatan Nabi Musa AS dengan membunuh bayi-bayi laki-laki Bani Israil.

Namun kehendak Allah berkata lain. Nabi Musa AS justru diselamatkan dan kemudian tumbuh besar di lingkungan istana Fir’aun.

Dari kisah tersebut, jamaah diajak mengambil pelajaran bahwa apabila Allah SWT menghendaki sesuatu terjadi, tidak ada kekuatan manusia yang mampu menggagalkannya.

Apa yang menjadi ketetapan Allah akan menemukan jalannya, meskipun seluruh dunia berusaha menghalanginya.

Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan perjalanan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan.

Dengan keterbatasan persenjataan, para pejuang Indonesia menghadapi kekuatan militer penjajah yang memiliki senjata api, meriam, granat dan berbagai perlengkapan perang.

Namun sejarah mencatat, perjuangan rakyat dengan segala keterbatasannya mampu mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan.

Bambu runcing menjadi simbol keberanian dan keteguhan para pejuang.

Bukan semata-mata karena bambu runcing lebih kuat daripada senjata modern, tetapi karena perjuangan tersebut dibangun dengan keberanian, persatuan, pengorbanan dan doa kepada Allah SWT.

Dalam perspektif keimanan, kemenangan tersebut mengajarkan bahwa kekuatan manusia memiliki batas. Ada kekuatan yang jauh lebih besar, yakni pertolongan dan kehendak Allah SWT.

Momentum HUT Kemerdekaan RI ke-81 pun menjadi kesempatan untuk merenungkan kembali bahwa kemerdekaan bukanlah sesuatu yang diperoleh secara cuma-cuma.

Di balik kemerdekaan terdapat darah, air mata, pengorbanan dan doa para pendahulu bangsa.

Karena itu, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk menjaga kemerdekaan dengan ilmu, akhlak, persatuan dan ketakwaan.

Tholabul Ilmi sebagai Jalan Menuju Ridha Allah. Dalam majelis tersebut, Abuya Achmad Yani Iliyin juga mengingatkan pentingnya tholabul ilmi atau mencari ilmu.

Sebagaimana pesan yang terpampang dalam kegiatan tersebut:

“Tholabul Ilmi adalah jalan menuju Surga. Siapa yang menempuhnya dengan ikhlas karena Allah, maka Allah mudahkan baginya setiap langkahnya.”

Bagi para santri, mencari ilmu bukan hanya aktivitas akademik, melainkan bagian dari perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pondok pesantren menjadi tempat para santri belajar ilmu agama, membangun akhlak, melatih kedisiplinan dan belajar mengabdikan diri kepada masyarakat.

Di balik kehidupan pesantren yang terlihat sederhana, terdapat tanggung jawab besar yang dipikul seorang kiai. Anak-anak yang dititipkan oleh orangdididik dan dibimbing.

Abuya menyampaikan gambaran tentang beratnya amanah seorang kiai yang dititipi para santri.

Seorang kiai, kata dia, memiliki rasa takut apabila ada santri yang belum mampu menjadi pribadi yang saleh dan salehah.

Tanggung jawab tersebut bukan hanya dipertanggungjawabkan di hadapan manusia, tetapi kelak juga di hadapan Allah SWT.

Karena itu, seorang guru dan pengasuh pesantren harus terus berusaha menjaga hubungan dengan Allah. Bahkan perjuangan mendidik santri tidak berhenti ketika aktivitas pondok selesai.

Ada doa yang terus dipanjatkan, ada kegelisahan yang dipikul, serta ada tanggung jawab batin agar para santri mendapatkan keberkahan ilmu dan mampu mengamalkannya.

Dalam suasana tersebut, jamaah diajak mendoakan para ulama dan masyayikh, termasuk Mbah Yai Abdul Karim Lirboyo, agar senantiasa mendapatkan limpahan rahmat Allah SWT dan menjadi bagian dari keberkahan ilmu yang terus mengalir kepada generasi berikutnya.

Menyambut Maulid Nabi dengan Cinta dan Sholawat.

Majelis Sabtu Malam Minggu di Ponpes Internasional Al-Illiyin juga semakin terasa istimewa karena dirangkai dengan pembacaan Maulid Simtudduror dan Jam’iyyah Sholawat Ibrohimiyah.

Memasuki bulan Maulid, jamaah diajak meningkatkan kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.

Kelahiran Rasulullah SAW bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kecintaan kepada Nabi, memperbanyak sholawat dan meneladani akhlak beliau.

Abuya mengajak para santri agar tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyambut bulan kelahiran Rasulullah SAW dengan kebahagiaan, sholawat dan amal kebaikan.

Bahkan ketika masa libur pondok tiba, semangat untuk bersholawat dan mengikuti kegiatan keagamaan diharapkan tidak berhenti.

Para santri tetap diarahkan untuk menjaga hubungan dengan Allah SWT, memperbanyak membaca sholawat dan terus memelihara kecintaan kepada Rasulullah SAW di mana pun berada.

Sebab, bagi seorang santri, libur dari kegiatan pondok bukan berarti libur dari ibadah dan tholabul ilmi.

Menyatukan Kemerdekaan, Ilmu dan Cinta Rasulullah.

Rangkaian pengajian tersebut menjadi semakin relevan dengan suasana HUT Kemerdekaan RI ke-81.

Kemerdekaan dan keimanan memiliki ruang perenungan yang sama: manusia harus berikhtiar sekuat tenaga, tetapi tetap menyadari bahwa hasil akhir berada dalam ketetapan Allah SWT.

Para pejuang dahulu berjuang dengan keterbatasan persenjataan. Para ulama berjuang melalui pendidikan dan dakwah. Para santri hari ini memiliki medan perjuangan yang berbeda, yakni menjaga ilmu, akhlak, persatuan dan masa depan bangsa.

Karena itu, kemerdekaan tidak cukup hanya dirayakan dengan upacara dan berbagai perlombaan. Kemerdekaan juga harus diisi dengan mencerdaskan kehidupan bangsa, memperkuat moral generasi muda dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dari Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin, semangat tersebut terus ditanamkan melalui tholabul ilmi, majelis sholawat, pembacaan Maulid Simtudduror dan penguatan nilai-nilai akhlakul karimah.

Pesan yang disampaikan Abuya Achmad Yani Iliyin menjadi pengingat bagi seluruh jamaah bahwa manusia boleh memiliki banyak rencana, tetapi jangan pernah merasa paling menentukan perjalanan hidup.

Sebab, ketika Allah telah menetapkan kehendak-Nya, jalan yang semula tertutup dapat terbuka, sesuatu yang dianggap mustahil dapat menjadi kenyataan, dan pertolongan dapat datang dari arah yang tidak pernah disangka-sangka.

Maka tugas manusia adalah terus berikhtiar, berdoa, menjaga keikhlasan dan tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT.

Semoga momentum HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 menjadi pengingat agar bangsa ini senantiasa bersyukur atas nikmat kemerdekaan, menjaga persatuan, menghormati para ulama dan pendahulu bangsa, serta mengisi kemerdekaan dengan ilmu, iman, akhlak dan cinta kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.

Semoga seluruh jamaah, santri, keluarga besar Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin dan bangsa Indonesia mendapatkan keberkahan, keselamatan serta pertolongan Allah SWT.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

( MBS )

About Post Author