Haul dan Megengan Sambut Ramadan 1447 H, Antusiasme Jamaah di Ponpes Al-Illiyin Gresik

IMG-20260215-WA0012
Spread the love

GRESIK –  Gelombang Antusiasme jamaah dari berbagai penjuru daerah memadati kompleks Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin, Sumberwaru, Wringinanom, Gresik, Sabtu (14/2/2026) malam. Mereka hadir untuk mengikuti peringatan haul Syekh Abdul Qodir Al-Jailani yang dirangkaikan dengan tradisi Megengan menyongsong Ramadan 1447 Hijriah serta prosesi Tajdidun Nikah.

Sejak ba’da Magrib, suasana pesantren dipenuhi lantunan shalawat, doa, dan pembacaan manaqib. Kegiatan yang terbuka untuk umum ini menghadirkan sejumlah ulama dan habaib dari berbagai daerah, di antaranya Syekh Muhammad bin Faqih dari Pamekasan, Tuan Guru KH Zhofarudin (Guru Udin) dari Samarinda, KH Muhammad Fauzi dari Batu Ampar Madura, serta Guru Jamaludin dari Samarinda.

Pengasuh pesantren, Abuya KH Ahmad Yani Al-Illiyin, memimpin langsung rangkaian acara yang berlangsung khidmat dan sarat makna spiritual.

Menguatkan Jiwa Menjelang Ramadan
Tradisi Megengan yang telah mengakar di masyarakat Jawa dimaknai lebih dari sekadar seremoni menjelang puasa. Momentum ini menjadi ajang muhasabah dan penguatan hati sebelum memasuki bulan suci.

Dalam tausiyahnya, Abuya KH Ahmad Yani menegaskan bahwa kecintaan kepada ulama dan orang-orang saleh merupakan cahaya ilahi yang tidak semua orang mendapatkannya. Ia mengajak jamaah memperbanyak syukur serta mempererat hubungan spiritual dengan Rasulullah SAW melalui shalawat.

Menurutnya, pertemuan dalam majelis ilmu dan dzikir seperti ini diharapkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir dan menjadi sebab berkumpulnya umat bersama Nabi Muhammad SAW di akhirat.

Meneladani Sang Sultanul Auliya
Para penceramah turut mengulas ketokohan dan kemuliaan Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, yang dikenal sebagai Sultanul Auliya. Disampaikan bahwa karomah terbesar seorang wali bukanlah keajaiban lahiriah, melainkan kemampuan membimbing manusia kembali ke jalan Allah.

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa dakwah dan pendidikan akhlak adalah inti perjuangan para ulama sepanjang masa. Mengajak orang untuk bertobat dan memperbaiki diri dinilai lebih utama daripada sekadar menunjukkan hal-hal luar biasa.

Ilmu dan Silaturahmi Jadi Pondasi
Dalam kesempatan itu, Guru Jamaludin menekankan pentingnya memperdalam ilmu agama sebagai fondasi ketakwaan. Ia menyampaikan bahwa kualitas ibadah sangat bergantung pada pemahaman seseorang terhadap ajaran Islam.

Sementara KH Muhammad Fauzi mengingatkan jamaah agar menyambut Ramadan dengan hati yang bersih. Ia menekankan pentingnya menjaga silaturahmi dan menghindari permusuhan, sebab ibadah puasa akan kehilangan maknanya bila masih menyimpan dendam.

Harapan dan Doa Bersama
Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama serta ramah tamah khas Megengan. Ribuan jamaah tampak khusyuk mengikuti setiap prosesi, bahkan sebagian rela datang dari luar Jawa Timur demi meraih keberkahan majelis.
Panitia berharap haul dan Megengan ini tidak hanya menjadi agenda rutin tahunan, tetapi juga sarana mempererat ukhuwah serta memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW dan para pewarisnya, para ulama.

Di penghujung malam, doa dipanjatkan agar seluruh yang hadir diberi kesehatan, dipertemukan kembali dengan Ramadan dalam keimanan yang sempurna, serta kelak dihimpun bersama Nabi Muhammad SAW dan para kekasih Allah di surga-Nya. Suasana haru dan penuh cahaya menutup perhelatan spiritual tersebut.
(MBS)