Rajab Dimuliakan dengan Ilmu dan Amal: Pengajian Tholabul Ilmi PP Internasional Al-Iliyin Tebarkan Cahaya Keberkahan Menuju Istana Surga

IMG-20260111-WA0001
Spread the love

WRINGINANOM – Cahaya keberkahan menyelimuti Pondok Pesantren Internasional Al-Iliyin yang terletak di Dusun Sumberwaru RT 02 RW 03, Desa Sumberwaru, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Dalam suasana malam yang hening dan penuh kekhusyukan, Pengajian Rutin Tholabul Ilmi kembali digelar sebagai wasilah menyemai ilmu, memperkuat iman, serta memuliakan bulan Rajab—bulan agung yang dimuliakan Allah SWT.

Majelis ilmu tersebut dihadiri para santri, jamaah, dan masyarakat dari berbagai daerah yang dengan penuh kesadaran menata niat tholabul ilmi, menuntut ilmu demi menggapai ridha Ilahi. Pengajian dipimpin langsung oleh Mursyid Thariqah sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Internasional Al-Iliyin, Abuya Ahmad Yani Iliyin, serta dihadiri para ulama kharismatik, di antaranya Syekh Muhammad Bil Faqih dari Madura selaku Ketua dan Pengasuh Ponpes Darul Qur’an Al-Faqih, KH Faishol Izzuddin dari Ponpes Mujaddadiyyah Madiun, serta para masyayikh dan kiai dari Surabaya.

Dalam mauidzah hasanahnya, Abuya Ahmad Yani Iliyin mengajak jamaah untuk menyadari kemuliaan bulan Rajab sebagai Syahrullah al-Ashamm, bulan Allah yang penuh rahmat, ampunan, dan peluang pahala berlipat. Beliau mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dari Abdullah bin Zubair r.a., bahwa siapa saja yang melapangkan satu kesulitan seorang mukmin di bulan Rajab, maka Allah SWT akan membangunkan baginya istana di Surga Firdaus seluas pandangan mata. Pesan tersebut menegaskan bahwa memuliakan Rajab bukan hanya melalui ritual, tetapi juga melalui kepedulian sosial dan kepekaan terhadap sesama.

“Monggo kita muliakan bulan Rajab dengan tholabul ilmi,” dawuh Abuya, seraya mengingatkan bahwa ilmu yang dicari dengan niat ikhlas akan menjadi cahaya yang menuntun langkah seorang mukmin di dunia hingga akhirat.

Lebih dalam, Abuya menjelaskan hakikat ujian hidup yang kerap disalahpahami manusia. Menurut beliau, cobaan bisa menjadi tanda cinta Allah bagi hamba-Nya yang dikehendaki naik derajatnya, atau menjadi peringatan bagi mereka yang mulai menjauh dari jalan-Nya.

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa hamba yang dicintai-Nya justru akan diuji agar hatinya bersih dan imannya semakin matang.
Abuya juga menyinggung kisah Rasulullah SAW yang menjelang wafat masih memiliki tanggungan hutang.

Kisah tersebut menjadi pelajaran besar bahwa kemuliaan seorang hamba tidak diukur dari kekayaan duniawi. Di antara para sahabat Nabi, ada yang wafat dengan harta melimpah dan ada pula yang hidup dalam kesederhanaan, namun semuanya mulia karena iman, keikhlasan, dan amal saleh yang menyertai hidup mereka.

Suasana majelis semakin haru saat Abuya mengisahkan gambaran hari kiamat tentang seorang hamba yang timbangan amal buruknya lebih berat daripada amal baiknya. Namun Allah SWT memperlihatkan satu gulungan amal yang amat berat timbangannya, yakni doa-doa yang tidak dikabulkan di dunia. Doa-doa tersebut ternyata disimpan Allah sebagai tabungan pahala, hingga akhirnya menjadi sebab hamba tersebut dimasukkan ke dalam surga. Kisah ini menggugah kesadaran jamaah agar tidak berputus asa dalam berdoa, sebab Allah Maha Mengetahui waktu dan hikmah terbaik bagi setiap hamba.

Kisah penuh makna berlanjut dengan dialog antara Rasulullah SAW dan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., di mana Abu Bakar bahkan berharap agar doanya tidak dikabulkan di dunia demi merasakan keindahan balasan di akhirat. Rasulullah SAW pun tersenyum, menandakan tingginya maqam iman dan keyakinan sahabat terdekat beliau itu.
Dalam penutup tausiyahnya, Abuya Ahmad Yani Iliyin menegaskan pentingnya menjaga salat, khususnya salat malam di bulan Rajab yang penuh fadhilah.

Salat tahajud, taubat, dan hajat disebut memiliki keutamaan luar biasa, bahkan diserupakan dengan ibadah panjang tanpa dosa. Siapa pun yang menegakkan salat malam dengan istiqamah, hakikatnya telah masuk dalam keutamaan tahajud itu sendiri.

“Setingkah apa pun, ojo pisan-pisan ninggalake salat,” pesan Abuya dengan nada penuh ketegasan dan kasih sayang. Salat adalah poros kehidupan, sumber ketenangan, dan pintu keberkahan yang tak tergantikan.

Beliau juga mengingatkan bahwa salat merupakan satu-satunya perintah yang disampaikan Allah SWT secara langsung kepada Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, tanpa perantara malaikat.

Hal itu menunjukkan betapa agungnya kedudukan salat dalam Islam. Surga dan neraka, menurut Abuya, tidak hanya kelak di akhirat, tetapi juga tercermin dalam hati manusia: ketenangan adalah surga, kegelisahan adalah neraka. Meski demikian, keyakinan tentang surga dan neraka yang nyata di akhirat tetap wajib diimani sesuai aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah.

Pengajian Rutin Tholabul Ilmi ditutup dengan doa bersama dan lantunan sholawat hingga menjelang dini hari. Jamaah pulang dengan hati yang teduh dan jiwa yang tercerahkan, membawa pesan kuat bahwa memuliakan bulan Rajab dengan ilmu, salat, doa, dan amal nyata adalah jalan menuju keberkahan hidup serta istana surga yang dijanjikan Allah SWT.
(MBS/Yud)