Desa Naisau Gelar Ritual Adat

Betun. libasmalaka.com–Acara “Tatam Pean Manusit” adalah  sebuah acara ritual adat yang dilakukan oleh suku Ene Ama Naisau (orang tua adat) di wilayah adat As Manulea.

Acara tersebut digelar dalam rangka untuk memasukan upeti berupa hasil panen (jagung, kacang-kacangan dan ubian-ubian)  kepada penguasa adat/raja di As Manulea. Hal ini di sampaikan ole Kepala Desa Naisau Siprianus Manek Asa di Betun, Jum’at (09/11/18)


Lanjut SMA panggilan Acara Akrabya “ritual adat tersebut dilaksanakan pada hari Rabu, 07 Nopember 2018 yang dimulai dari kampung Buimetom – Naisau menuju perkampungan adat As Manulea.

Acara tersebut di lakukan oleh para tetua adat dari suku Naisau yang dikoordinir oleh Nai Anket (koordinator adat). Para tetua adat dari Naisau menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sepanjang  2 km, dengan masing – masing memikul hasil panenannya sambil menyayikan lagu-lagu yang bernuansa adat sebagai ucapan syukur kepada sang penguasa alam.
Mereka sangat kompak, hal ini dapat terlihat dari cara mereka berjalan yaitu masuk dalam sebuah barisan panjang secara tertib. Terlihat di sepanjang perjalanan tidak seorangpun yang keluar dari barisan tersebut.

Paling depan Nai Anket sebagai pimpinan rombongan tersebut,  memegang sebuah ranting kayu dan daun untuk memberi isyarat kepada siapa saja yang melintas baik para pejalanan kaki maupun kendaraan agar berhenti dan mengambil tempat di dipinggir jalan.

Hal ini dapat dilakukan karena menurut kepercayaan yang dianut adalah bila para pejalan kaki menerobos rombongan terbut maka akan berakibat buruk terhadap orang yang menerobos tersebut. Bila terjadi tanpa disengaja maka orang yang menerobos tersebut harus bertemu dengan pemangku adat setempat untuk dapat dipulihkan kembali dengan cara disembur ala adat setempat.

Setibanya di pintu gerbang kampung adat As Manulea,  para tetua adat dari Naisau beristirahat sejenak.

Dalam istirahat tersebut masing-masing tua adat meletakkan hasil penannya secara rapi pada tempat yang telah disediakan, sambil tetap melantunkan syair-syair adat. Selanjutnya para tetua adat mulai memasuki perkampungan adat lengkap dengan pakaian adat setempat, secara tertib berjalan satu-satu dalam sebuah barisan menuju tempat yang telah disediakan jauhh sebelumnya. Di tempat itu Nai A A at (juru bicara adat) bersama para orang tua dan raja telah menunggu juga dalam situasi adat.

Setelah para tetua adat dari Naisau meletakkan hasil panenannya,  mereka dipersilahkan untuk mengambil tempat pada tempat yang telah disediakan lalu Nai A A at menyapa mereka dalam tutur adat, selanjutnya dipersilahkan untuk duduk bersama para pemangku adat dan raja yang telah menunggu sebelumnya. Setelah saling menyuguhkan sirih dan pinang maka acara ritual adat dimulai yang diawali dengan “Konen” (tutur adat) kepada leluhur yang dilakukan oleh Nai A A at yang intinya adalah bahwa merasa bersyukur atas hasil panenan yang diperoleh dalam tahun tersebut.

Setelah “Konen” maka hewan kurban disembelih, setelah penyembelihan tersebut dilanjutkan dengan penyerahan hasil panen tersebut kepada pemangku adat dari empat Sonaf (rumah adat tempat para raja) yaitu Sonaf Banhae, Sonaf Umutnana, Sonaf Baba’ af (Lur Mutin Kwaik Laetua)  dan Sonaf Umrisu. Di setiap sonaf para tetua adat menyerahkan upeti (hasil panenan) kepada pemangku adat/Raja.

Saat penyerahan tersebut para tetua adat diterima oleh penjaga Sonaf selanjutnya dipersilahkan duduk lalu disuguhi sirih dan pinang. Setelah acara penyerahan upeti di setiap Sonaf, para tetua adat dari Naisau kembali ke tempat semula untuk selanjutnya makan adat bersama dengan para pemangku adat di Sonaf dan para Raja.

Menurut penuturan Penjabat Kepala Desa Naisau (Syprianus Manek Asa/SMA) yang adalah turunan langsung Suku Naisau, menyatakan acara ritual adat ini adalah acara yang telah diwariskan oleh nenek moyang kami bahwa memasukan upeti kepada Raja adalah merupakan sebuah rasa hormat dan kewajiban sehingga sekalipun jaman kian modern namun acara ini tetap kami pelihara. Memang untuk acara ritual adat seperti ini dua tahun belakangan kami tidak laksanakan, hal ini terjadi karena ada beberapa halangan teknis yang terjadi.

Kami suku Naisau adalah Suku Ene Ama (orang tua) dimana di Kerajaan As Manulea Suku Naisau memiliki kewenangan penuh untuk dan atas nama, demi kepentingan rakyat memilih dan menentukan dari antara anak turunan Raja siapa yang pantas dan layak untuk menjadi Raja pada keempat Sonaf tersebut, dengan merujuk pada adat istiadat Wesei-Wehali bahwa kita menganut sistim Matrelineal.

Setelah seorang Raja dipilih oleh Ene Ama Naisau dan ditempatkan pada keempat Sonaf tersebut maka Ene Ama harus bertanggung jawab atas kebutuhan hidup sang Raja.

Kata SMA, kami orang As Manuela bangga karena ternyata nenek moyang kami telah menitipkan sebuah acara ritual adat yang sangat bermartabat ini. Ketika kami menyaksikan acara “Be Mau” yang digelar pada setiap tahun kami sebagai orang Manulea terganggu. Mengapa acara “Be Mau” perhelatannya sangat meriah dan mengundang banyak pengunjung baik dari daerah Fehan maupun dari daerah Foho dan bahkan dari daerah lain pun datang untuk menyaksikan acara tersebut. Lalu mengapa acara ritual adat “Tatam Pean manusit” di As Manulea tidak kami buat sama meriah seperti acara “Be Mau”.

Untuk itu kami mohon dengan hormat kepada Pemerintah (Dinas pariwisata Kabupten Malaka) agar dapat mendukung kami dalam rangka memelihara acara budaya ini agar acara ini dapat berfungsi sebagai alat untuk menarik para wisatawan datang ke Kabupaten Malaka.

Kami akan berusaha agar acara ritual adat  ini untuk tahun-tahun ke depan dapat dibenahi secara lebih baik. Tahun depan kami rencana bahwa ketika acara ritual adat ini digelar maka bapak Bupati Malaka (bapak Dr. Stefanus Bria Seran, MPH) bersama keluarga besarLaetua Haitimuk akan kami undang untuk hadir.

Hal ini kami lakukan karena Laetua Haitimuk adalah rumah induk Laetua Manulea

%d blogger menyukai ini: