Bupati Malaka Pertanyakan Penetapan Passing Grade dan Kualitas Soal Tes CPNS

Betun libasmalaka.com –Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran mempertanyakan pelaksanaan Test CPNS di Kabupaten Malaka. Pasalnya, sudah tiga hari test CPNS digelar yang diikuti 1300 peserta dari 3.216 untuk merebut 500 kuota, baru ada lima orang yang lulus. Ini menunjukan ada masalah besar tentang indikator penetapan nilai passing grade dan tentang kualitas soal yang tidak sesuai realita mutu pendidikan yang ada. Input pendidikan berbeda setiap daerah, juga beda proses pendidikan tetapi menggunakan indikator penilaian yg sama untuk seluruh Indonesia. Terhadap persoalan diatas perlu dicarikan pemecahannya. Penegasan itu disampaikan Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran kepada wartawan di Betun-Kabupaten Malaka-Provinsi NTT, Selasa (6/11-2018).

” Saya mempertanyakan tentang kualitas soal . Karena dari 1300 Sarjana lulusan dari Perguruan Tinggi yang terakreditasi sesuai persyaratan yang lulus hanya lima orang”.

“Jadi ini ada dua hal besar yakni penentuan Passing Grade dan kualitas soalnya.
Maka ini harus ditinjau dan harus ada jalan keluarnya.”

“Jalan keluar yang diusulkan yakni menggunakan hasil test ini tetapi seleksinya adalah nilai tertinggi dari
formasi itu dia yang kita rekrut”.

 

“Karena sudah hari ketiga dari 1300 sarjana minimal S1 dari Perguruan Tinggi Terakreditasi di Indonesia tetapi yang lulus hanya lima orang. Ini ada sesuatu yang tidak beres yang harus ditinjau lagi”.

“Saya sudah kontak ketua dan Sekjen Apkasi di Jakarta dan mereka sangat responsif menangapi masalah yang terjadi karena hal ini terjadi hampir rata-rata di berbagai daerah Indonesia”.

“Input pendidikan itu berbeda di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Proses pendidikannya juga berbeda. Masak kita menggunakan indikator penilaian yang sama. Ini kan tidak masuk di akal’.

“Negara Indonesia ini berdasarkan Bhinneka Tungal Ika. Bhinneka dulu baru Ika. Artinya kita berbeda-beda tetapi kita bersatu. Jadi berbeda itu dalam kualitas pendidikan, pemenuhan inputnya . Kok inputnya berbeda mengharapkan outputnya yang sama. Ini tidak benar”.

“Dari pembelajaran tiga hari ini saya membuat pernyataan bahwa ada dua hal yang dipertanyakan . Yang satu penetapan passing gradenya tidak benar dan kedua kualitas soalnya tidak memperhatikan realita kualitas pendidikan di Indonesia. Karena ini lulusan S1 dari Perguruan Tinggi yang terakreditasi karena persyaratan kita adalah lulusan dari perguruan tinggi terakreditasi dan harus sarjana”.

“Bagaimana passing gradenya mereka tidak lulus.
Ini pertanyaan besar dan siapa yang harus bertangung jawab? Atau soalnya yang mengada ada?. Atau penetapan passing gradenya

yang tidak memperhatikan kondisi riil keadaan di indonesia?. Ini harus didiskusikan dengan baik.”

“Jangan anak-anak jadi korban. Kita Jangan bermain sandiwara. Mengalokasikan 500 kuota bagi anak-anak di Malaka lalu tidak lulus gara-gara tidak memenuhi passing grade”.

“Urus negara ini kita harus
serius karena kita urus pewaris bangsa ini (Bud)